Indonesia Izinkan Investasi Asing di Pendidikan Tinggi

Penulis: Dimas Jarot Bayu

Editor: Ekarina

Jum'at 7/9/2018, 20.32 WIB

Dalam perjanjian kerja sama CEPA dengan Australia, Pemerintah Indonesia pertama kali membuka investasi asing di pendidikan tinggi.

PAMERAN PENDIDIKAN INGGRIS 2017
ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah
Mahasiswa berkunjung di stan saat pameran pendidikan Inggris 2017 di Aston Hotel, DI Yogyakarta, Kamis (9/3). Pameran pendidikan yang diikuti 19 institusi pendidikan asal Inggris tersebut untuk memberikan informasi rinci tentang program pendidikan di Inggris kepada calon mahasiswa.

Indonesia dan Australia melalui Comprehensive Economics - Partnership Agreement (CEPA)  akan memperluas kerja sama di bidang peningkatan daya saing tenaga kerja di Indonesia. Hal tersebut dilakukan salah satunya melalui investasi dan kerja sama di bidang pendidikan tinggi dan vokasional.

Direktur Perundingan Bilateral Kemendag Ni Made Ayu Marthini mengatakan, Indonesia akan memperbolehkan Australia untuk melakukan investasi di bidang pendidikan tinggi.

Hal itu dilakukan dengan memberikan foreign equity participantship (FEP) kepada Australia agar dapat melakukan investasi tersebut. Selama ini, investasi di bidang pendidikan tinggi tidak diperbolehkan untuk asing lantaran masuk dalam daftar negatif investasi (DNI).

(Baca : Kerja Sama Dagang, 6.474 Pos Tarif Produk RI ke Australia Akan Dihapus)

"Ini pertama kali kita coba karena Indonesia percaya akan peningkatan pendidikan yang lebih baik di masa depan," kata Made di kantornya, Jakarta, Jumat (7/9).

Menurut Made, masuknya investor Australia di bidang pendidikan tinggi dapat meningkatkan persaingan antar-universitas di dalam negeri. Persaingan tersebut, kata Made, dapat memberikan hasil yang baik kepada para lulusannya ke depan.

Dengan demikian, para lulusan universitas tersebut diharapkan dapat memberikan kontribusi positif kepada ekonomi Indonesia. "Bukan (pendidikan tinggi) Indonesia tidak bagus, tapi untuk lebih kompetitif kita harus bersaing," kata Made.

Di tingkat vokasional, kemitraan dilakukan melalui program magang bagi 200 warga negara Indonesia setiap tahunnya. Program magang akan dibuka untuk sembilan sektor, yakni pendidikan, pariwisata, telekomunikasi, infrastruktur, kesehatan, energi, pertambangan, keuangan, dan teknologi komunikasi dan informasi (ICT).

Made mengatakan, 200 WNI tersebut akan dikirim ke Australia untuk melakukan magang selama enam bulan. Setelah lulus, mereka akan mendapatkan sertifikat yang selevel pendidikan di Australia.

 (Baca: Indonesia Jadi Negara Pertama yang Dikunjungi PM Baru Australia)

"Sehingga mereka siap masuk pasar kerja di Indonesia, Australia, atau negara commonwealth lainnya," kata Made.

Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bidang Hubungan Internasional Shinta Widjaja Kamdani menambahkan, peningkatan daya saing juga dilakukan melalui penambahan kuota visa kerja dan berlibur (work and holiday visa) 5% setiap tahunnya. Menurut Shinta, kuota work and holiday visa akan dinaikkan hingga mencapai 5000 orang dari jumlah saat ini sebesar 4100 orang.

Selain itu, daya saing bakal ditingkatkan melalui pertukaran tenaga kerja antar perusahaan Indonesia-Australia. Dengan pertukaran tenaga kerja tersebut diharapkan terjadi transfer pengetahuan.

"Kalau kita bisa meningkatkan skill labour, tentu akan bisa lebih baik buat kita," kata Shinta.

 

 

 

 

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha