Pertamina Ultimatum Aramco hingga Oktober Putuskan Kilang Cilacap

Penulis: Anggita Rezki Amelia

Editor: Arnold Sirait

Minggu 9/9/2018, 09.00 WIB

Pertamina memberi tenggat kepada Saudi Aramco hingga pertengahan Oktober untuk memutuskan kelanjutan mitra di Kilang Cilacap.

Kilang Cilacap
ANTARA FOTO/Idhad Zakaria

PT Pertamina (Persero) kembali meminta kejelasan Saudi Aramco mengenai kelanjutan proyek kilang minyak di Cilacap. Kali ini, perusahaan pelat merah itu bahkan memberikan tenggat kepada Saudi Aramco untuk memutuskan lanjut tidaknya kemitraan di proyek tersebut.  

Direktur Perencanaan Investasi dan Manajemen Risiko Pertamina Gigih Prakoso mengatakan selama ini pihaknya merasa nasib proyek tersebut digantung Saudi Aramco. Ini karena perusahaan asal Arab Saudi ini tidak kunjung memberi keputusan.

Untuk meminta kejelasan itu, Pertamina sudah menyurati Saudi Aramco. Bahkan, perusahaan pelat merah ini akan bertemu dengan manajemen Saudi Aramco.

Gigih mengatakan dalam surat tersebut Pertamina memberikan batas waktu kepada Saudi Aramco hingga pertengahan Oktober untuk memutuskannya. Jika hingga batas waktu itu, Saudi Aramco tak kunjung memutuskan, Pertamina tetap melanjutkan pembangunan Kilang Cilacap tanpa mereka.

Namun, Pertamina masih menunggu respons dari Saudi Aramco terlebih dulu."Kami konfirmasi ke sana dan kirim surat klarifikasi mengenai komitmen lanjut atau tidak. Kalau tidak, kami akan ambil keputusan akan sendiri atau cari partner yang lain," kata dia kepada Katadata.co.id, Kamis (6/9).

Pertamina dan Saudi Aramco memang sepakat bermitra menggarap proyek kilang tersebut. Di kilang itu, Pertamina memiliki hak kelola mayoritas atau sebesar 55% di Kilang Cilacap. Sisanya dipegang Saudi Aramco.

Pertamina akan memasuki tahap studi desain konstruksi dasar (Basic Enginering Design/BED) dan desain awal (Front End Enginering Design/FEED). Biaya kajian tersebut, menurut Gigih bisa dua persen lebih besar dari total nilai proyek. Adapun nilai proyek kilang Cilacap diperkirakan mencapai US$ 5,5 miliar.

Pemerintah sebenarnya tidak tinggal diam terhadap proyek ini. Bahkan, insentif pajak (tax holiday) sudah diberikan untuk menjaga keekonomian proyek.

Namun, Saudi meminta hal lain yakni, aset Kilang Cilacap yang ada saat ini dipindahkan ke perusahaan baru yang nantinya diintegarasikan atau dipimpin oleh Senior Vice President (SVP) baru. "Itu namanya spin off, Saudi maunya aset eksisting ditranfer ke SVP baru," ujar Gigih.

Sementara itu, mengenai lahan, Gigih pernah mengatakan masalah lahan sudah selesai. Pertamina memang membutuhkan perluasan lahan. Ini akan menutup jalan utama di depan area kilang, sehingga memerlukan lahan pengganti.

Lahan tersebut sudah diperoleh dari pihak ketiga. “Untuk lahan tambahan yang diperlukan oleh proyek ini sudah diselesaikan dan tinggal proses settlement,” ujar Gigih Kamis (30/8).

(Baca: Proyek Kilang Cilacap Tetap Jalan Sesuai Target meski Tanpa Aramco)

Modifikasi Kilang Cilacap ini masuk dalam Proyek Strategis Nasional (PSN). Proyek ini digarap Pertamina dan Saudi Aramco. Dengan proyek ini kapasitas kilang minyak di Cilacap akan meningkat menjadi 400 ribu barel per hari (bph) dari sebelumnya 348 ribu bph.

Proyek modifikasi Kilang Cilacap ini awalnya ditargetkan selesai 2021. Namun belakangan Pertamina mengatur ulang jadwal tersebut hingga 2023.

Reporter: Anggita Rezki Amelia

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha