Kekeringan dan Penurunan Produksi Kerek Harga Jual Gabah

Penulis: Michael Reily

Editor: Ekarina

Rabu 3/10/2018, 20.04 WIB

Menurut pengamat, berdasarkan survei kekeringan melanda 24.213 hektare lahan pertanian di 14 kabupaten sentra produksi gabah di Indonesia.

Kekeringan
ANTARA FOTO/Siswowidodo
Petani merawat tanaman di lahan yang mengering di Waduk Saradan, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, Rabu (6/9).

Harga gabah dan beras  naik di beberapa tempat. Guru Besar Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB) Dwi Andreas Santosa menuturkan, kondisi itu antara lain disebabkan oleh kekeringan yang melanda 14 kabupaten sentra produksi padi hingga berakibat pada menurunnya produksi wilayah tersebut sebesar 39,3%. 

"Dampak kekeringan mulai tercermin dari pergerakan harga gabah di tingkat petani meskipun pemerintah memiliki stok yang memadai," kata Dwi kepada Katadata, Rabu (3/10).

Berdasarkan kajiannya bersama Asosiasi Bank Benih Tani Indonesia, pada Mei hingga Agustus 2018 produksi gabah tercatat menurun  sebesar 39,3% berasal dari kekeringan yang melanda 24.213 hektare dari sekitar 61.085 hektare lahan pertanian di 14 kabupaten sentra produksi gabah.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

(Baca : Tekan Inflasi, Pemerintah Enggan Tingkatkan HPP Beras dan Gabah)

Survei itu antara lain dilakukan di Jawa Timur, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Barat, dan Aceh.

Adapun 7 kabupaten di Jawa Timur yang menjadi wilayah yang disurvei, yaitu Gresik, Jombang, Lamongan, Magetan, Ponorogo, Trenggalek, Sampang, Banyuwangi, Pasuruan, dan Sukoharjo. Dua kabupaten di Jawa Tengah yakni Sukoharjo dan Karanganyar. Kemudian, daerah lain adalah Gunungkidul, Yogyakarta; Indramayu, Jawa Barat; serta Nisam, Aceh Utara, Aceh.

Dwi mengungkapkan survei lapangan itu untuk mengkonfirmasi kondisi wilayah yang terdampak kekeringan. "Penurunan produksi akibat kekeringan di wilayah yang kami survei menunjukan hasil lebih tinggi dibandingkan tahun lalu," ujarnya.

(Baca : BPS: Harga Semua Jenis Beras Naik pada September 2018)

Dia menjelaskan, harga rata-rata gabah di 46 kabupaten dalam 12 provinsi juga menunjukkan tren peningkatan. Jika pada Juli Dwi mencatat, harga gabah sebesar Rp 4.388 per kilogram,  per Agustus  meningkat jadi Rp 4.672 per kilogram. Sementara per September, harga gabah kembali naik  ke angka Rp 4.839 per kilogram.

Kerenanya, dia pun tak sependapat jika hasil panen meningkat seperti klaim Kementerian Pertanian. Sebab, harga beras dan gabah tak akan naik jika hasil panen berlebih.

Dia juga menyebut, hasil survei yang dilakukan pihaknya hampir sama dengan data Badan Pusat Statistik (BPS) . 

Menurut data BPS,  rata-rata harga gabah di tingkat petani untuk kualitas gabah kering panen (GKP)  pada September 2018 terpantau sebesar Rp 4.889 per kilogram atau naik 2,40% dibandingkan bulan sebelumnya. Pada tingkat penggilingan, harga GKP mencapai Rp 4.990 per kilogram atau naik 2,46%.

Sementara, rata-rata harga gabah kering giling (GKG) di petani Rp 5.399 per kilogram atau naik 1,71%. Pada tingkat penggilingan, harga GKG Rp 5.501 per kilogram, naik 1,86%. Kemudian, harga gabah kualitas rendah di tingkat petani Rp 4.652 per kilogram atau naik 6,61% sementara di tingkat penggilingan Rp 4.753 per kilogram, naik 6,67%.

Sementara itu, Kementerian Pertanian sebelumnya mengklaim kekeringan sawah pada periode Januari hingga Agustus 2018 hanya sekitar 135.226 hektare atau setara 1,34% terhadap total luas tanam sebesar 10,07 juta hektare. Wilayah sawah yang gagal panen (puso) juga hanya mencapai 26.438 hektare atau hanya 0,26% dari total luas tanam.

Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Sumardjo Gatot Irianto mengaku optimistis produksi padi semester kedua 2018 akan optimal. “Dampaknya masih kecil, paling besar kekeringan dan gagal panen hanya 5%,” kata Gatot, Senin (1/10) lalu.

Dia menjelaskan, produktivitas padi sepanjang Januari hingga Agustus 2018 sebesar 51,92 kuintal per hektar. Alhasil, produksi padi diperkirakan mencapai 49,47 juta ton, dengan potensi kehilangan hasil gabah hanya sebesar 0,63% atau setara 314.932 ton.

Menurut Gatot, jika dibandingkan perkiraan konsumsi beras nasional yang sebesar 33,47 juta ton, produksi padi masih akan surplus lebih dari 13 juta ton. “Pangan tersedia asal penimbun yang mengguncang harga beras nasional ditangkap,” ujarnya.

Catatan Kementerian Pertanian, harga gabah pada tahun ini selalu berada di atas Rp 4.200 per kilogram. Pada Mei, harga gabah sempat mencapai level terendah seiring panen raya, kemudian naik stabil dengan rata-rata Rp 4.600 per kilogram di Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan, dan Sulawesi.

Reporter: Michael Reily