Hasil Investasi Mengecewakan, Laba Taspen Tidak Tumbuh

Penulis: Ihya Ulum Aldin

Editor: Happy Fajrian

Rabu 5/12/2018, 00.51 WIB

Hasil investasi Taspen mengecewakan terutama pada instrumen investasi yang sensitif terhadap volatilitas pasar modal Indonesia belakangan ini.

Uang rupiah
Arief Kamaludin|Katadata

PT Tabungan dan Asuransi Pensiun (Persero) atau Taspen, bersiap menghadapi kondisi profitabilitas perusahaan yang mengecewakan hingga akhir 2019. Direktur Utama Taspen, Iqbal Latanro menyampaikan, laba bersih Taspen untuk tahun buku 2018 dan 2019 diperkirakan hanya sekitar Rp700 miliar.

Target laba sebesar Rp700 miliar hingga 2019 lebih rendah jika dibandingkan dengan pencapaian laba bersih pada tahun buku 2017 yang mencapai Rp720,50 miliar. Apalagi, laba tahun 2017 meroket hingga 191,60% dibandingkan laba periode sebelumnya yang hanya Rp247,08 miliar.

Iqbal menjelaskan, tidak tumbuhnya laba Taspen pada 2018 dan 2019 mendatang salah satunya disebabkan oleh tingginya ketidakpastian pada perekonomian global yang berdampak ke perekonomian nasional. Kondisi tersebut menyebabkan pasar modal Indonesia menjadi sangat volatil, sehingga hasil investasi Taspen jauh dari target yang diharapkan.

(Baca: Kementerian BUMN: Utang Perusahaan BUMN Tak Sampai Rp 2.488 Triliun)

"Di dalam portofolio investasi Taspen ada instrumen investasi yang available for sale (AFS). Instrumen ini kena mark to market. Ada instrumen investasi yang hold to maturity. Itu tidak kena mark to market. Dengan kondisi indeks seperti ini, tentu nilainya turun," terangnya kepada Katadata.co.id saat ditemui di komplek DPR RI Senayan, Jakarta, Selasa (4/12).

Kendati demikian, Iqbal berharap hasil investasi Taspen pada Desember ini akan lebih baik dengan kondisi pasar modal yang mulai membaik. "Pencapaiannya agak lebih rendah dari target. Karena masih ada terkena mark to market yang berpengaruh. Belum ada gain karena belum di-trading. Biasanya kalau Desember indeksnya membaik, itu (hasil investasi) naik," papar Iqbal.

Portofolio investasi Taspen saat ini didominasi oleh surat berharga negara (SBN) yang porsinya mencapai 70% dari total portofolio investasi. Sisanya adalah instrumen investasi yang sensitif terhadap kondisi pasar modal. Namun Iqbal menyampaikan, jika kondisi pasar modal tahun depan bagus, ada kemungkinan Taspen akan menurunkan porsi SBN.

Untuk menghadapi potensi pasar modal yang volatil pada 2019, Taspen juga akan memperkuat manajemen risikonya. Selain itu Taspen akan lebih banyak melakukan investasi langsung tidak pada instrumen saham, melainkan pada instrumen reksadana penyertaan terbatas yang risikonya lebih rendah dibandingkan instrumen investasi saham.

Selain itu, upaya untuk meningkatkan efisiensi akan terus berjalan di Taspen, walaupun Iqbal mengklaim bahwa Taspen sudah beroperasi secara efisien. "Biaya operasional kami hanya Rp500 miliar per tahun. Sekarang kita berdoa supaya kondisi market bagus. Tapi masa' jadi dirut berdasarkan doa saja," pungkasnya.

(Baca juga: Taspen Bantah Memiliki Utang Rp 222 Triliun)

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha