Kadin Dorong Pemerintah Optimalkan Komoditas Kelautan dan Perikanan

Penulis: Ekarina

27/12/2018, 21.19 WIB

Volume ekspor di sektor kelautan dan perikanan masih didominasi oleh rumput laut yang mencapai 175.000 ton dengan nilai ekspor US$ 241 juta.

Tuna
Donang Wahyu|KATADATA
Nelayan melakukan bongkar muat ikan tuna dan cakalang di pelabuhan Bitung, Sulawesi Utara.

Kamar Dagang dan Industri (Kadin) mendorong pemerintah mengoptimalkan komoditas sektor kelautan dan perikanan baik dari segi volume maupun nilai tambah. Dengan mengembangkan kedua sektor tersebut,  hal itu diharapkan bisa  berkontribusi terhadap peningkata ekspor.

"Jika melihat sebagian besar komoditas perikanan, justru volume yang dihasilkan belum optimal. Padahal, kita tahu potensi kita cukup besar, namun ternyata produktivitas komoditas ekspor kita belum seperti yang kita harapkan bersama," kata Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Kelautan dan Perikanan, Yugi Prayanto di Jakarta, Kamis (27/12).

Yugi mengungkapkan volume ekspor di sektor kelautan dan perikanan masih didominasi oleh rumput laut yang mencapai 175.000 ton dengan nilai ekspor US$  241 juta. Padahal menurutnya, masih banyak potensi perikanan nasional harusnya bisa dikembangkan agar bisa berkontribusi maksimal terhadap kinerja ekspor nasional.

"Kami dari dunia usaha terus mendorong agar sektor perikanan bisa berkontribusi lebih lebih banyak untuk ekspor. Baik perikanan tangkap hingga budidaya, sehingga kami juga sangat berharap agar kebijakan yang ada bisa mendukung terhadap upaya ini dan target ekspor yang dicanangkan pemerintah bisa terealisasi," kata Yugi.

Sementara itu, Ketua Dewan Penasehat Kelautan dan Perikanan Kadin Rokhmin Dahuri menjelaskan dunia usaha berharap kebijakan pemerintah tidak berubah-ubah karena mempunyai efek berganda yang signifikan terhadap sektor-sektor ekonomi lainnya.

Dia juga berharap pemerintah mendorong kemajuan ekonomi dengan berfokus pada pertumbuhan dan ekspor.  Kebijakan pemerintah diharapkan bisa lebih mengutamakan pendekatan konsep membangun pertumbuhan ekonomi yang inklusif serta fokus pada peningkatan nilai dan volume ekspor.

"Sekarang dengan pertumbuhan lima persen misalnya, sejauh mana pertumbuhan itu berdampak terhadap kesejahteraan nelayan, masyarakat pesisir serta keberlangsungan usaha perikanan dan kelautan," kata Rokhmin.

Sebab ke depan, masih banyak hal yang harus diperhatikan. Tak hanya pelaku usaha, tapi nelayan menurutnya masih menemui banyak tantangan seperti sulitnya mendapatkan akses pembiayaan dan permodalan karena dianggap tidak bankable, selain juga terbentur dengan peraturan-peraturan cukup memberatkan.

Disamping itu, masih mahalnya sarana produksi menjadi catatan tersendiri bagi pengusaha untuk melangsungkan usaha perikanannya.

Data Kementerian Kelautan dan Perikanan mencatat, ekspor hasil perikanan periode Januari-Oktober 2018 sebanyak 915.000 ton, naik dibandingkan periode yang samatahun lalu  sebesar 862.000 ton. Sedangkan dari sisi nilai, ekspor Januari-Oktober 2018 mencapai US$ 3,99 miliar, tumbuh dibandingkan pada periode yang sama 2017 sebesar US$ 3,61 miliar. 

Adapun permintaan produk pangan laut diperkirakan terus meningkat ke depan. Organsisasi Pangan dan Pertanian (FAO)   memprediksi pasar seafood dunia pada  2024 mencapai 240 juta ton, yang mana 160 juta ton di antaranya adalah dari perikanan budidaya.

 

Reporter: Antara

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha