Gaet Milenial, Pariwisata Perlu Gencarkan Promosi Via Internet

Penulis: Dini Hariyanti

14/1/2019, 20.29 WIB

Sekitar 74 persen wisatawan mancanegara yang masuk adalah pengguna ponsel pintar sekaligus pengakses internet aktif.

Myanmar
Donang Wahyu|KATADATA
Wisatawan asing berfoto di area Pagoda Shwedagon Myanmar. Akibat krisis kemanusiaan Rohingya di negara bagian Rakhine, kunjungan wisatawan asing menurun.

Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menyatakan separuh pasar pariwisata Tanah Air diisi pelancong kalangan milenial. Mereka termasuk individu yang rutin mengakses internet melalui berbagai platform.

Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan, pelaku bisnis di sektor pariwisata perlu mengoptimalkan pemanfaatan teknologi digital. Pasalnya, sekitar 74 persen wisatawan mancanegara yang masuk adalah pengguna ponsel pintar sekaligus pengakses internet aktif.

“Sebesar 50 persen wisatawan itu milenial dengan selera dan kebiasan berwisata yang berbeda. Dan rata-rata mereka menggunakan teknologi digital,” tuturnya mengutip siaran pers terkait Wonderful Startup Academy yang diterima Katadata.co.id, Senin (14/1).

(Baca juga: Incar 20 Juta Wisman di 2019, Kemenpar Kembangkan Wisata Perbatasan

Kemenpar yakin milenial akan mendominasi aktivitas wisata di Indonesia. Secara umum, 57 persen pasar pariwisata Asia diisi pelancong berusia 15 - 34 tahun ini. Di Tiongkok jumlahnya mencapai 333 juta, Filipina 42 juta, Vietnam 26 juta, Thailand 19 juta, sedangkan Indonesia 82 juta.

“Wisatawan milenial adalah pangsa pasar masa depan. Porsinya sekitar 7 juta orang atau sekitar 34 persen dari target 20 juta wisatawan mancanegara pada tahun ini. Jadi, harus terus dioptimalkan mulai dari sekarang,” ujar Arief. (Baca juga: Ketimbang Selfie, Pelancong Generasi Z Lebih Suka Dipotret Fotografer

Kemenpar menyebutkan, industri pariwisata tumbuh 22 persen atau di atas rerata kenaikan sektor ini secara global sebesar 6,4 persen. Angka itu juga melampaui ASEAN yang tumbuh 7 persen. Selain regulasi, imbuh Arief, perkembangan pariwisata nasional didukung pemanfaatan teknologi informasi.

“Tumbuh 22 persen karena pasti saya menyentuh dua hal, regulasi dan teknologi, ini hal yang stategis. Hampir tidak mungkin memenuhi keinginan para kaum milenial bila tidak menggunakan teknologi digital,” ucapnya. 

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha