Cetak Laba Rp 32 Triliun, Saham BRI Jadi Buruan Investor Asing

Penulis: Happy Fajrian

30/1/2019, 20.56 WIB

Pertumbuhan laba BRI ditopang pertumbuhan penyaluran kreditnya yang sangat baik, dengan rasio kredit bermasalah 2,27%. Saham BRI diborong asing Rp 298 M.

RUPSLB BRI 2019
ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari
Direktur Utama Bank Rakyat Indonesia Suprajarto (kedua kanan) bersama Direktur Keuangan Haru Koesmahargyo (kanan), Direktur Konsumer Handayani (tengah), Direktur Kepatuhan Achmad Solichin Lutfiyanto (kedua kiri) dan Direktur Mikro dan Kecil Priyastomo (kiri) foto bersama sebelum menyampaikan keterangan terkait Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) di Jakarta, Kamis (3/1/2019). RUPSLB tersebut menyetujui perubahan pengurus perseroan diantaranya pemberhentian Kuswiyoto sebaga

PT Bank Rakyat Indonesia Persero Tbk (BRI) berhasil mencetak laba bersih sebesar Rp 32,4 triliun sepanjang 2018. Raihan tersebut naik 11,6% dibandingkan dengan raihan laba pada tahun sebelumnya.

Direktur Utama BRI Suprajarto mengungkapkan, pertumbuhan laba ditopang oleh penyaluran kredit yang naik 14,1% secara tahunan di akhir 2018 menjadi Rp 843,6 triliun. Sementara kualitas kredit terjaga, dengan rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) kotor (gross) berada pada level 2,27%.

"Dari penyaluran kredit, pendorong profitabilitas BRI yakni penyaluran kredit ke sektor usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) yang sebesar Rp 645,7 triliun, atau setara 76,5% dari total penyaluran kredit BRI," ujar Suprajarto, di Gedung BRI, Jakarta, Rabu (30/1).

Dengan NPL gross di 2,27%, BRI pada 2018 juga menaikkan rasio cadangan terhadap kredit bermasalah (NPL Coverage) menjadi 185,9 persen dari posisi di 2017 yang sebesar 183 persen.

(Baca: Kerjasama Dengan HKTI, BRI Target Salurkan KUR ke Petani Rp 80 Triliun)

Sementara itu pertumbuhan kredit juga ditopang oleh penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) yang mencapai Rp 944,3 triliun, naik 12,2% dibandingkan posisi DPK pada tehun sebelumnya. Sehingga rasio likuiditas yang terlihat dari rasio pembiayaan terhadap pendanaan atau loan to deposit ratio (LDR) terjaga pada level 89,3%.

Suprajarto mengatakan pendorong lain laba bersih BRI adalah peningkatkan efisiensi proses bisnis. Hal tersebut tercermin dari penurunan beban operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) sebesar 0,7% menjadi 70% pada akhir 2018 dari posisi 2017 sebesar 70,7%.

Sementara itu aset BRI pada akhir 2018 mencapai Rp 1.296,9 triliun atau tumbuh 15,2% secara tahunan dibandingkan posisi Desember 2017 yang sebesar Rp 1.126,2 triliun.

Dengan catatan kinerja yang positif tersebut, harga saham BRI naik 60 poin atau 1,63% menjadi Rp 3.750 pada akhir perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini. Saham BRI menjadi salah satu saham yang berkontribusi paling besar terhadap kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang naik 0,43%.

Tidak hanya itu, saham BRI menjadi saham yang paling diburu oleh investor asing yang hari ini mencatatkan pembelian bersih saham BRI hingga Rp 298,9 miliar, atau mencapai 42,95% dari total nilai transaksi saham BRI hari ini yang mencapai Rp 696 miliar.

(Baca: KUR Produktif Tak Capai Target, BRI Siap Terima Sanksi dari Pemerintah)

Reporter: Antara

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha