Kementerian ESDM Pastikan Smelter Freeport Dibangun di Gresik

Penulis: Fariha Sulmaihati

Editor: Arnold Sirait

4/2/2019, 20.24 WIB

Progres pembangunan smelter Freeport mencapai 2,5%.

Freeport
ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja
Sejumlah Haul Truck dioperasikan di area tambang terbuka PT Freeport Indonesia di Timika, Papua.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan pembangunan pabrik pengolahan dan pemurnian (smelter) PT Freeport Indonesia dibangun di Gresik, Jawa Timur. Ini karena ada Kawasan Industri Terpadu Java Integrated Industrial and Ports Estate (JIIPE).

Direktur Jenderal Mineral dan Batu bara Kementerian ESDM Bambang Gatot Ariyono mengatakan rencana pembangunan smelter itu disampaikan Freeport usai proses divestasi saham selesai. "Sudah dilaporkan ke Kementerian ESDM Freeport akan bangun di JIIPE Gresik," kata dia, di Jakarta, Senin (4/2).

Direktur Pembinaan dan Pengusahaan Mineral Yunus Saefulhak mengatakan bahwa pembangunan smelter Freeport di Gresik sudah mencapai 2,5% pada 2018. Adapun, pembangunan smelter ditargetkan bisa rampung pada 2023. "Sebenernya masih sesuai rencana yang lama," kata dia.

Sebelumnya, Deputi Bidang Usaha Pertambangan, Industri Strategis, dan Media Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Fajar Harry Sampurno mengatakan ada tiga opsi lokasi pembangunan smelter Freeport, yakni Papua, Nusa Tenggara Barat dan Gresik, Jawa Timur. “Jadi tiga tempat itu dikaji,” ujar dia di Jakarta, Jumat (1/2).

Fajar juga mengatakan pesan khusus dari Menteri BUMN Rini Soemarno mengenai lokasi pembangunan smelter tersebut, yakni ketersediaan listrik untuk operasional smelter. Jadi, lokasi pembangunan smelter itu harus memiliki cadangan listrik yang besar karena butuh listrik banyak.

Salah satu opsi sumber listrik itu bisa dengan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). Ini karena sumber listrik dari PLTA tergolong murah.

Berdasarkan laporan kuartal IV tahun 2018 yang diterbitkan Freeport McMoran, total investasi membangun smelter tersebut yakni US$ 3 miliar atau Rp 42,2 triliun. Biaya itu akan dipikul masing-masing pemegang saham.

(Baca: Mulai Besok, Perusahaan Mineral Tak Bangun Smelter Siap-siap Didenda)

Freeport McMoran memiliki saham sebesar 48,76%, dan Inalum atau kepemilikan Indonesia sebesar 51,24%.  “Smelter baru akan ditanggung pemegang saham PTFI sesuai dengan persentase kepemilikan saham jangka panjang masing-masing," dikutip Senin (28/1).

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha