Pertama Kali, Bali United dan Persija akan IPO di Bursa Tahun Ini

Penulis: Ihya Ulum Aldin

Editor: Happy Fajrian

11/2/2019, 20.23 WIB

Bali United dan Persija Jakarta berencana untuk IPO tahun ini. Sejumlah persyaratan harus disiapkan oleh kedua klub agar rencana tersebut berjalan lancar.

Bali United vs Persija 2018
Liga-Indonesia.id
Dua klub yang berencana IPO tahun ini, Bali United dan Persija, ketika bertemu pada pertandingan Liga Indonesia, 3 Desember 2018.

Klub sepak bola Liga 1 sepakbola Indonesia Bali United F.C. dikabarkan siap untuk melantai di pasar modal Indonesia melalui skema penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO) tahun ini. Klub yang saat ini diperkuat oleh Irfan Bachdim dan Stefano Lilipaly ini dimiliki oleh PT Bali Bintang Sejahtera. Pengusaha Pieter Tanuri merupakan komisaris di perusahaan tersebut.

Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia I Gede Nyoman Yetna mengatakan bahwa manajemen Bali United telah menyampaikan rencana tersebut kepada BEI. "Bali United sudah menyampaikan rencana secara lisan, namun belum menyampaikan dokumen. Bali United akan IPO di tahun ini," kata Nyoman Yetna kepada awak media di Jakarta, Senin (11/2).

Rencana tersebut diperkirakan dapat terealisasi pada tahun ini. Kendati demikian, Nyoman mengatakan, klub yang bermarkas di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, ini belum membahas lebih lanjut lagi terkait jumlah saham yang akan dilepas ke publik. "Skema belum dibahas. Mereka lebih banyak mendiskusikan pemenuhan persyaratan," kata Nyoman menambahkan.

(Baca: Tepis Akuisisi Viva, Erick Thohir Jual Saham Inter untuk Bayar Utang)

Klub yang dijuluki Serdadu Tridatu ini berdiri sejak 1989. Sebelum berganti nama menjadi Bali United F.C. pada 15 Februari 2015, klub yang berdiri dengan nama Persatuan Sepak Bola Indonesia Samarinda (Persisam) yang merupakan eks tim perserikatan ini juga sempat berganti nama menjadi Putra Samarinda. Sejak 2001 sampai 2006 mereka berlaga di divisi pertama sebelum promosi ke Liga Super Indonesia.

Persija Juga Tertarik Untuk Go Public

Tidak hanya Bali United yang menyatakan ketertarikannya untuk mencari sumber pendanaan di pasar modal. Sebelumnya, Persija Jakarta juga menyatakan rencananya untuk go public tahun ini. PT Persija Jaya Jakarta berencana melakukan IPO sebelum akhir Desember 2019. Dengan masuk ke bursa saham, Persija berharap dapat menambah pundi-pundi pendapatan mereka yang beberapa tahun terakhir memerah karena pengeluaran yang lebih besar dari pendapatan.

Direktur Pengembangan BEI Hasan Fawzi mengatakan pihaknya menyambut baik rencana IPO Persija tersebut dan menilainya sebagai sebuah langkah maju. "Kami siap mendukung dan membantu prosesnya. Ini kan pionir, ada proses yang harus betul-betul dipastikan supaya mereka tidak kesulitan," ujar Hasan di Jakarta, Senin (11/2).

(Baca: Jokowi: Indonesia Kehilangan Atas Pensiunnya Butet)

Menurut Hasan, dengan menjadi perusahaan terbuka yang tercatat di bursa, hal tersebut tidak hanya dapat mendorong kinerja Persija tapi juga diharapkan dapat meningkatkan aspek tata kelola dan akuntabilitas di mata publik. "Apalagi untuk segmen industri Persija, yang kepemilikan dan keterikatannya dengan publik cukup tinggi," ujarnya.

Persyaratan IPO Harus Dipenuhi

Untuk dapat melakukan IPO, layaknya perusahaan lain yang sudah tercatat di BEI, baik Persija maupun Bali United juga harus memenuhi persyaratan pencatatan saham di BEI baik dari sisi bentuk badan hukum, masa operasional, laba usaha, aset bersih yang dapat diukur (net tangible aset), dan pendapat laporan keuangan audit dua tahun terakhir.

"Sekarang persyaratannya sama, tidak ada pembedaan secara khusus. Nanti apakah mereka layak katakanlah di papan utama atau pengembangan, kita lihat prosesnya," ujar Hasan. Ia menambahkan rencana IPO Persija ini dapat menjadi inspirasi baik bagi klub sepakbola lainnya atau industri kreatif lainnya, yang selama ini memiliki nilai (value) di mata publik luas karena memiliki basis penggemar fanatik dan besar.

"Di balik penggemar yang besar itu, ada 'value' karena fanatisme publik pendukungnya sebetulnya secara 'going concern' atau prospek pertumbuhan jangka panjang itu cukup menjanjikan. Tinggal tata kelola dan transparansi informasi ke publik, terutama dalam konteks kinerja keuangan harus kita benahi," kata Hasan.

(Baca: Terkoreksi 0,41%, IHSG Kembali Turun ke Bawah Level 6.500)

Reporter: Ihya Ulum Aldin dan Antara

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha