Sektor Aneka Industri Terkoreksi Dalam, IHSG Turun 0,09% di Sesi I

Penulis: Happy Fajrian

11/2/2019, 14.03 WIB

Enam indeks sektoral dorong koreksi IHSG pada sesi I siang ini. Sentimen dari perang dagang mempengaruhi kinerja IHSG dan bursa saham Asia lainnya.

Bursa Saham
Arief Kamaludin|Katadata

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi tipis sebesar 0,09% pada sesi I perdagangan saham hari ini, Senin (11/2), ke level 6.515,79. Rapor merah IHSG siang ini didorong oleh koreksi yang cukup dalam pada sektor aneka industri, tambang, manufaktur, serta keuangan.

Menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI) dari sepuluh indeks sektoral, enam sektor mengalami koreksi. Sektor aneka industri turun paling dalam sebesar 1,03%, tambang turun 0,77%, manufaktur turun 0,35%, keuangan turun 0,27%, industri dasar turun 0,77%, dan properti turun 0,4%.

Sementara itu transaksi saham pada sesi I perdagangan tercatat mencapai 6,83 miliar lembah saham, senilai Rp 3,57 triliun. Sebanyak 173 saham berkinerja positif, sedangkan 200 saham terkoreksi, da 127 saham stagnan. Investor asing membukukan penjualan bersih saham hingga Rp 45,24 miliar di pasar reguler.

Tiga saham yang paling banyak dilepas oleh investor asing siang ini yaitu PT Astra International Tbk (ASII) sebesar Rp 745 miliar, kemudian PT United Tractors Indonesia Tbk (UNTR) Rp 14,6 miliar, serta PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) senilai Rp 14 miliar.

(Baca: Dibuka Naik 0,08%, IHSG Bergerak Fluktuatif Antisipasi Perang Dagang)

Selain paling banyak dilepas asing, ketiga saham tersebut juga masuk dalam jajaran saham top losers yang turut menekan kinerja IHSG. Saham ASII terkoreksi 1,23%, UNTR turun 0,87%, serdangkan saham BBTN turun 1,48%.

Sementara itu bursa saham di Asia lainnya bergerak bervariatif. Indeks Strait Times terkoreksi 0,42%, dan KLCI turun 0,09%. Lainnya, indeks Shanghai naik 1,02%, Hang Seng naik 0,29%, Kospi sudah berbalik naik 0,10%, serta PSEi naik 0,17%.

Fokus investor global masih tertuju pada perkembangan perundingan dagang Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok yang masih belum jelas apakah akan mampu mencapai kesepakatan mengingat tenggat waktu gencatan senjata tarif selama 90 hari sejak Desember 2018 akan segera berakhir.

Padahal, masih banyak isu krusial yang masih harus dibahas, termasuk soal kebijakan transfer teknologi secara paksa bagi perusahaan asal AS yang berperasi di Tiongkok serta soal tuduhan pencurian hak kekayaan intelektual perusahaan AS, T-Mobile, oleh pihak Tiongkok.

(Baca: IHSG Pekan Lalu Terkoreksi, Hari Ini Diprediksi Kembali Naik)

Presiden AS Donald Trump yang telah membantah kabar yang menyebutkan dia akan bertemu dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping pada 1 Maret mendatang untuk menutup kesepakatan dagang AS-Tiongkok, semakin membuat investor khawatir perang dagang akan tereskalasi.

Di sisi lain, kekhawatiran perlambatan pertumbuhan ekonomi global juga semakin membebani benak investor setelah komisi Uni Eropa menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi zona Euro cukup signifikan untuk tahun ini dan tahun depan.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha