Kemenhub: Jika Avtur Ditekan, Maskapai Bisa Turunkan Harga Tiket

Penulis: Ameidyo Daud

Editor: Hari Widowati

13/2/2019, 14.15 WIB

Harga avtur menyumbang 40% dari biaya penerbangan pesawat sehingga porsinya signifikan terhadap beban operasional maskapai.

Garuda Indonesia
Donang Wahyu|KATADATA
Jika harga avtur ditekan, maskapai penerbangan domestik bisa menyesuaikan kembali harga tiket pesawat.

 


Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menilai maskapai penerbangan domestik bisa kembali menyesuaikan tarif atau harga tiket pesawat jika harga avtur ditekan. Apalagi, komponen bahan bakar itu menyumbang porsi signifikan terhadap biaya operasional penerbangan.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Polana B Pramesti mengatakan, berdasarkan kajian Kementerian Perhubungan pada akhir 2015, beban avtur mencapai 24% dari operasional penerbangan. Sementara, pihak maskapai mengatakan harga avtur menyumbang 40% dari biaya penerbangan pesawat.

"Kalau harga turun, otomatis (menjadi) komponen yang berpengaruh. Kami lihat seharusnya mereka bisa lakukan penyesuaian kembali," kata Polana, di Jakarta, Rabu (13/2).

Saat ini, Kemenhub melalui Badan Penelitian dan Pengembangan sedang melakukan perhitungan terhadap tarif pesawat. Namun, kewenangan untuk menurunkan harga avtur berada di tangan PT Pertamina (Persero) dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Polana juga menyampaikan, berdasarkan hasil rapat dengan Pertamina Aviasi, sebenarnya harga avtur perusahaan pelat merah tersebut sudah kompetitif. Namun, masih ada komponen harga yang bisa diturunkan lagi meski dia enggan menyebut apa saja komponennya. "Karena bukan kewenangan kami, nanti Pertamina atau ESDM yang mungkin bisa sampaikan," kata dia.

(Baca: Hapus Monopoli Penjualan Avtur Pertamina, Jokowi Tawarkan Dua Opsi)

Monopoli Terancam Dicabut

Mahalnya harga avtur membuat Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyatakan akan mencabut monopoli penjualan avtur Pertamina di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Ia menyebutkan, harga avtur domestik lebih tinggi 20% dibandingkan dengan harga internasional. Akibatnya, maskapai penerbangan dalam negeri harus menaikkan harga tiket pesawat untuk mengimbangi biaya operasional yang dikeluarkan.

Jokowi mengatakan, kenaikan harga tiket pesawat turut berakibat pada sektor pariwisata dan menurunnya tingkat keterisian (okupansi) hotel sejak awal tahun ini. Ia juga mengaku baru mengetahui tarif pesawat domestik meningkat tinggi. "Ternyata avtur yang dijual di Soekarno-Hatta dimonopoli oleh Pertamina, sehingga besok pagi saya akan undang direktur utama Pertamina,” kata Jokowi.

Karenanya, pemerintah akan memberikan dua pilihan kepada Pertamina. Pertama, pemerintah meminta Pertamina menyesuaikan harga avtur domestik agar setara dengan harga internasional. Jika opsi pertama tidak bisa dilakukan, pilihan keduanya pemerintah akan mengizinkan perusahaan minyak lain menjual avtur sehingga menyebabkan kompetisi harga.

Opsi kedua diyakini akan membuat banyak perusahaan minyak tertarik masuk untuk mendistribusikan avtur di Bandara Soekarno-Hatta. “Saya yakin banyak yang mengantre supaya persaingan lebih sehat dan ada efisiensi, larinya ke situ,” ujarnya. Di sisi lain, Pertamina diyakini mampu bersaing karena telah berhasil mencetak laba lebih dari Rp 20 triliun sepanjang tahun lalu.

(Baca: Polemik Harga Avtur, JK: Tiket Murah Jangan Sampai Korbankan Maskapai)

Reporter: Ameidyo Daud

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha