Bekraf Young Technology Entrepreneurs Incar Pelaku Usaha Milenial

Penulis: Michael Reily

Editor: Sorta Tobing

16/4/2019, 17.57 WIB

Bekraf membidik pengusaha milenial di Batam. Lokasinya dekat Singapura dan Malaysia sehingga kota itu perlu pembangunan ekosistem digital.

Bekraf Young Technology Entrepreneurs, program pengembangan usaha milenial, Triawan Munaf, tiga subsektor industri kreatif yang tumbuh pesat.
Arief Kamaludin | Katadata
Ilustrasi industri kreatif.

Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) mulai menggelar program pengembangan kapasitas generasi milenial dalam program Bekraf Young Technology Entrepreneurs (BYTE). Sekitar tiga ratus pengusaha milenial dari Jember, Manado, Kupang, Batam, dan Jayapura bakal terkurasi menjadi 50 peserta yang potensial.

Kepala Biro Hukum dan Komunikasi Publik Bekraf Mariaman Purba mengatakan, peserta yang terpilih akan ikut pelatihan untuk pengembangan bisnis. "Kami harap pelatihan ini bisa meningkatkan pengusaha muda untuk mengembangkan bisnisnya," kata Mariaman dalam keterangan resminya, Selasa (16/4).

Salah satu tempat yang dituju Bekraf adalah Batam sebagai daerah strategis yang berbatasan langsung dengan Singapura dan Malaysia. Di kota itu perlu pembangunan ekosistem pertumbuhan ekonomi digital melalui BYTE.

(Baca: Storytelling, Kunci agar Produk Ekonomi Kreatif Jadi Lebih Menarik)

Dia menambahkan, BYTE adalah upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia untuk edukasi bisnis dalam desain produk, konsep bisnis, foto produk, serta presentasi produk yang baik. Selain itu, pengajaran ini bertujuan agar teknologi digital bisa dimanfaatkan untuk membuka peluang pasar.

Bekraf menghadirkan narasumber yang kompeten seperti Giamomoe, BD+A Design, Aksi Nusantara, Scoldo Media Tech, serta Android.id. Sepuluh peserta terbaik pun mendapatkan pelatihan intensif dalam mematangkan konsep bisnisnya.

Nantinya, finalis bakal terus mengalami seleksi sampai menjadi tiga terbaik dan berkesempatan mengikuti Business Development Program. Tiga pemenang juga bakal ikut program Bekraf lain.

(Baca: Krisis Penulis Skenario & Kru Film, Bekraf Akan Hadirkan Pelatih Asing)

Chief Executive Officer (CEO) Giamomoe Firstman Marpaung menyarankan usaha kreatif terus menggali ide baru. "Jangan ambil keputusan berdasarkan asumsi, harus ada data, catat setiap transaksi supaya tahu apa yang dibutuhkan orang" ujarnya.

Menurut Firstman, saran dari masyarakat harus menjadi acuan supaya produk dapat terus konsumen terima. Giamomoe merupakan usaha yang bergerak pada penjualan produk muslim seperti hijab.

Tiga Subsektor Industri Kreatif yang Tumbuh Pesat

Bekraf sebelumnya memprediksi tiga subsektor industri kreatif akan tumbuh paling cepat tahun ini. Ketiganya adalah film, animasi, dan video; aplikasi dan pengembang permainan; serta musik.

Kepala Bekraf Triawan Munaf mengatakan, perkembangan bisnis di tiga subsektor itu dibarengi perbaikan ekosistem. Hal ini membuat kapitalisasi kekayaan intelektual yang dimiliki industri perfilman, gim, dan musik relatif lebih besar daripada subsektor lain.

(Baca: Bekraf Kirim 19 Pelaku Industri Kreatif untuk Ikut Festival di Amerika)

 

Reporter: Michael Reily

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan