Astra International Siapkan Modal Rp 30 T untuk Ekspansi Anak Usaha

Penulis: Ihya Ulum Aldin

Editor: Happy Fajrian

25/4/2019, 21.37 WIB

Besaran belanja modal tersebut merupakan anggaran belanja modal rutin Astra tanpa ada rencana ekspansi khusus.

Suasana aktivitas pabrik perakitan kendaraan milik PT Isuzu Astra Motor Indonesia (IAMI) di Kawasan Industri Suryacipta, Karawang Timur, Jawa Barat.
Arief Kamaludin|KATADATA
Suasana aktivitas pabrik perakitan kendaraan milik PT Isuzu Astra Motor Indonesia (IAMI) di Kawasan Industri Suryacipta, Karawang Timur, Jawa Barat.

PT Astra International Tbk. menganggarkan belanja modal alias capital expenditure (capex) sebesar Rp 30 triliun untuk tahun ini. Presiden Direktur Astra Prijono Sugiarto mengatakan, nilai tersebut bisa saja lebih besar lagi tergantung apakah ada tawaran investasi di luar perkiraan yang menarik.

Nilai belanja modal tersebut terdiri dari belanja modal beberapa anak usaha mereka. PT Astra Agro Lestari Tbk, misalnya, menganggarkan belanja modal Rp 1,7 triliun; PT United Tractors Tbk. mengganggarkan US$ 1 miliar atau sekitar Rp 14 triliun. Selain itu, Astra menyisihkan Rp 2,5 triliun untuk sektor otomotif. 

"Untuk ekspansi jalan tol, Marga Mandala Sakti diminta untuk perluasan dan lain-lain. Itu perlu juga. Sisanya untuk belanja modal misalkan IT," kata Prijono di kantornya, Kamis (25/4).

Belanja modal Astra International tahun ini merupakan nilai rata-rata belanja modal rutin tiap tahunnya tanpa ada rencana ekpansi khusus. Belanja modal mereka pada 2017 sebesar Rp 23 triliun, namun setelahnya naik menjadi Rp 40 triliun.

Prijono menjelaskan hal itu karena tahun lalu Astra International berinvestasi besar, yakni akuisisi tambang emas Martabe senilai US$ 1 miliar atau sekitar Rp 14 triliun. (Baca: Penurunan Performa Grup Otomotif Menahan Laju Laba Astra International)

Kinerja Bisnis Otomotif Astra

Di sektor otomotif, Prijono mengatakan Astra cukup puas dengan capaiannya pada penjualan mobil di triwulan I-2019 ini. Mereka mampu meraih pangsa pasar 53 %, atau lebih besar dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 49 %.

Oleh karena itu, tahun ini mereka tidak memiliki target pangsa pasar yang spesifik. "Pangsa pasar kami kepala lima (di atas 50 %), sudah cukup membanggakan," katanya.

Meski mampu meraih pangsa pasar yang besar, sebenarnya penjualan mobil grup Astra pada tiga bulan pertama tahun ini turun sekitar 5 %. Meski begitu, capaian tersebut jauh lebih baik dibandingkan dengan rata-rata volume penjualan mobil nasional yang turun hingga 13 %.

Sementara untuk binis kendaraan roda dua, melalui PT Astra Honda Motor (AHM), Astra International mencatatkan penjualan 1,3 juta unit pada kuartal I 2019, naik 19 % dibanding periode yang sama tahun lalu. Terlebih, menjelang hari raya Idul Fitri, mereka percaya penjualan motor mampu tumbuh 20 %.

Sektor otomotif ini masih menjadi penyumbang utama laba bersih kuartal I 2019 Astra dengan torehan laba bersih sebesar Rp 1,9 triliun. Namun, kontribusinya turun 10 % dibanding kontribsi tahun sebelumnya sebesar Rp 2,1 triliun.

Menurut Prijono, penurunan kontribusi laba bersih bisnis otomotif disebabkan oleh volume penjualan mobil grup perusahaan yang menurun. Selain itu, kenaikan biaya material pabrik kendaraan juga turut menyebabkan kontribusi laba dari lini bisnis ini ikut tertekan.

(Baca: Toyota Bidik Penjualan 340 Unit C-HR Hybrid)

Reporter: Ihya Ulum Aldin

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan