Pertamina Tak Serap LNG Bontang, Lifting Gas Hanya 86% dari Target

Penulis: Verda Nano Setiawan

Editor: Ratna Iskana

9/7/2019, 09.19 WIB

SKK Migas mencatat, lifting gas sepanjang semester I-2019 sebesar 5.913 MMscfd dan minyak sebesar 752 ribu bopd.

skk migas, pertamina, lifting migas
Arief Kamaludin | Katadata
Ilustrasi, logo Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK MIgas). SKK Migas mencatat total lifting migas hingga akhir Juni 2019 mencapai 1,808 juta juta barel setara minyak per hari (boepd) atau baru mencapai 90% dari target APBN sebesar 2 juta boepd.

Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menyatakan, lifting minyak dan gas bumi (migas) sepanjang semester pertama 2019 belum memuaskan. Di periode itu, kata Kepala Divisi Program dan Komunikasi (SKK Migas) Wisnu Prabawa Taher, lifting gas hanya sekitar 86% dari target APBN 2019 sebesar 7 ribu juta standar kaki kubik per hari (MMscfd).

Rendahnya lifting gas ini karena tidak maksimalnya penyerapan gas oleh pembeli. Salah satunya kargo LNG Bontang  yang belum diserap maksimal oleh Pertamina. Akibatnya, terjadi penurunan penyerapan gas yang diolah menjadi LNG di kilang Bontang. "Rata-rata sekitar 200 MMscfd dari semua produsen gas di Kalimantan Timur sejak awal bulan Juni 2019 hingga saat ini," kata Wisnu kepada Katadata.co.id, Senin (8/7).

Selain itu, lifting  gas yang cukup rendah juga disebabkan tidak maksimalnya hasil pengembangan sumur baru, antara lain di Mahakam dan Pangkah. "Diharapkan pengeboran sumur baru di Semester II-2019 dapat lebih baik hasilnya,"katanya. 

Sedangkan untuk lifting minyak sepanjang semester I kemarin mencapai 97% dari target APBN 2019 sebesar 775 ribu barel per hari (bopd). "Memang belum mencapai target, karena kemampuan cadangannya perlu dijaga untuk terus optimal, jangan sampai water cut-nya naik," ujar Wisnu.

(Baca: Pengeboran Belum Maksimal, Lifting Migas Blok Mahakam Terus Turun)

Total lifting migas hingga akhir Juni 2019 mencapai 1,808 juta juta barel setara minyak per hari (boepd) atau baru mencapai 90% dari target APBN sebesar 2 juta boepd. Penyebabnya, penurunan produksi secara alamiah (decline rate) yang rata-rata berkisar 15-20% pada mayoritas lapangan tua atau mature di Indonesia.  Ke depannya SKK Migas optimistis decline rate bisa diminalisir di bawah 5% dengan upaya optimalisasi dan pengembangan lapangan migas melalui pengeboran sumur baru, produksi proyek baru, dan pemeliharaan sumur yang optimal. 

SKK Migas juga mencatat ada lima kontraktor penyumbang lifting migas terbesar. Khusus lifting minyak, ada ExxonMobil Cepu Ltd  dengan realisasi 220 ribu bopd, PT Chevron Pacific Indonesia 194 ribu bopd, Pertamina EP 80 ribu bopd, Pertamina Hulu Mahakam 37 ribu BOPD, dan PHE OSES 29 ribu BOPD. Untuk lifting gas, realisasi BP Berau Ltd sebesar 971 juta MMscfd, ConocoPhillips Grissik Ltd 827 MMscfd, Pertamina EP 768 MMscfd, Pertamina Hulu Mahakam 662 MMscfd, dan Eni Muara Bakau 589 MMscfd.

Wisnu menyampaikan, SKK Migas bersama kontraktor terus berupaya melaksanakan program pengembangan secara berkelanjutan untuk meningkatkan produksi migas. "Serta melaksanakan ekplorasi untuk mencari cadangan migas,"ujar Wisnu.

(Baca: ExxonMobil dan BP Berau Penyumbang Lifting Migas Terbesar Semester I)

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan