Nasib Program Biodiesel setelah Era Penggunaan Mobil Listrik

Penulis: Rizky Alika

Editor: Martha Ruth Thertina

3/8/2019, 09.00 WIB

Konsumsi biodiesel domestik naik 45% pada 2018.

mobil listrik, biodiesel
Michael Reily|Katadata
Mobil Listrik

Pemerintah menggencarkan penggunaan biodiesel sejak tahun lalu. Langkah ini untuk menurunkan impor bahan bakar minyak. Selain itu, menyerap minyak sawit domestik. Namun, saat ini, pemerintah tampak serius untuk mengembangkan kendaraan listrik. Lantas, bagaimana nasib biodiesel?   

Direktur Eksekutif Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPPB) Ahmad Safruddin mengatakan, penggunaan kendaraan listrik bukan hanya akan mengurangi konsumsi biodiesel. “Tapi bahan bakar minyak secara keseluruhan,” kata dia di Jakarta, Jumat (2/8).

(Baca: Berlomba Jadi Pionir Bus Listrik, dari Moeldoko hingga Bakrie)

Di sisi lain, Pengamat Kebijakan Publik Agus Pambagio meyakini konsumsi biodiesel tidak akan terganggu. Sebab, ada kendaraan hybrid electric vehicle yang penggunaan energinya digabungkan antara listrik dan bahan bakar minyak, seperti biodiesel 20.

"Ada bauran energi jadi tidak mengganggu biodiesel lah," ujarnya. Apalagi, untuk saat ini, kendaraan listrik baru akan didorong untuk kendaraan umum.

(Baca: Uni Eropa Diskriminatif, Pemerintah Cari Pasar Ekspor Sawit ke Afrika)

Ditambah lagi, produsen kendaraan masih memproduksi kendaraan berbahan bakar minyak dengan standar emisi Euro IV. Standar tersebut berasal dari Eropa yang mengatur kuantitas gas karbon dioksida, nitrogen oksida, karbon monoksida, dan volatile hydro carbon.

Pemanfaatan biodiesel tercatat meningkat sepanjang tahun 2018. Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menunjukkan, konsumsi biodiesel domestik naik 45% atau sekitar 3,75 juta kilo liter dibandingkan 2017.

Limbah Baterai Kendaraan Listrik

Agus menilai pengembangan kendaraan listrik masih memiliki masalah, yakni soal limbah atau pembuangan baterai. Sebab, limbah baterai belum diatur oleh pemerintah hingga saat ini.

Ia meminta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mempertimbangkan mekanisme pembuangan baterai kendaraan listrik. "Itu lithium atau bukan? Kalau lithium kan seperti nuklir, buang sampahnya di mana?" ujarnya.

Tanpa kajian yang tepat, ia khawatir pembuangan lithium dapat mencemari laut.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan