Ekosistem Startup Jakarta Ungguli Mumbai, Seoul, dan Tokyo di Asia

Penulis: Michael Reily

Editor: Happy Fajrian

9/8/2019, 05.00 WIB

Di kelompoknya, Jakarta hanya kalah dari Hangzhou, Tiongkok; dan Helsinki, Finlandia. Serta Singapura yang berada di kelompok lebih maju.

Suasana gedung-gedung perkantoran di DKI Jakarta difoto dari ketinggian. Jakarta dinilai memiliki ekosistem perkembangan startup yang lebih baik dibandingkan sejumlah kota di Asia lainnya seperti Mumbai, Seoul, dan Tokyo.
Donang Wahyu|KATADATA
Suasana gedung-gedung perkantoran di DKI Jakarta difoto dari ketinggian. Jakarta dinilai memiliki ekosistem perkembangan startup yang lebih baik dibandingkan sejumlah kota di Asia lainnya seperti Mumbai, Seoul, dan Tokyo.

Perusahaan riset Genome melaporkan bahwa Jakarta memiliki ekosistem startup yang lebih baik daripada kota lainnya di Asia seperti Mumbai, Seoul, dan Tokyo. Dalam laporan Global Startup Ecosystem Report 2019 perusahaan asal Amerika Serikat (AS) ini, kota-kota tersebut merupakan kandidat penantang kuat kota dengan ekosistem startup potensial.

Masyarakat Industri Kreatif Teknologi Informasi dan Komunikasi (MIKTI) memulai inisiatif untuk memasukkan Jakarta untuk ikut kajian ekosistem pertumbuhan digital. "Jakarta punya nilai sebagai kota yang punya ekosistem berpengalaman," kata Ketua Umum MIKTI Joddy Hernady di Jakarta, Kamis (8/8).

Jakarta hanya kalah daripada Helsinki (Finlandia) dan Hangzhou (Tiongkok). Namun, Jakarta lebih baik daripada Lagos (Nigeria), Melbourne (Australia), Montreal (Kanada), Moskow (Rusia), Mumbai (India), Sao Paulo (Brazil), Seoul (Korea Selatan), Shenzhen (Tiongkok), dan Tokyo (Jepang).

Meski begitu, daftar kota penantang kuat potensial merupakan daftar kelompok kedua. Ada satu daftar kota yang punya ekosistem perusahaan startup lebih maju seperti Singapura (Singapura), Los Angeles (AS), dan Bangalore (India).

(Baca: BRI Ventures Kucurkan Rp1 Triliun untuk LinkAja dan Startup Lain)

Joddy mengungkapkan ada 7 faktor penilaian sebagai kota dengan ekosistem startup yang baik. Rinciannya, performa, pendanaan, pengetahuan, akses pasar, talenta, pengalaman, serta integrasi. "Yang harus dilakukan pada ekosistem fase ini adalah fokus keterhubungan secara global," ujarnya.

Menurut MIKTI, Jakarta adalah rumah untuk 4 unicorn dari total 7 unicorn yang ada di Asia Tenggara. Catatannya, ada sekitar 800 sampai 1.100 startup dengan nilai ekosistem lebih dari US$ 12 miliar. Secara total, ada 532 startup di Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi atau sekitar 52% total startup nasional.

Joddy juga mengungkapkan sektor e-commerce masih jadi favorit dengan jumlah 188 startup dan financial technology (fintech) menyusul dengan 33 startup. Bahkan, ekosistem fintech di Indonesia sejajar dengan India, Tiongkok, Filipina, Singapura, Australia, dan Jepang.

Sementara itu, Deputi Infrastruktur Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Hari Santosa Sungkari mengungkapkan Indonesia potensial untuk berkontribusi terhadap ekonomi kreatif dan digital. "Empat unicorn belum cukup, karena kita harus bangun ekosistem," kata Hari.

Bekraf pun menggandeng MIKTI untuk mengembangkan ekosistem ekonomi digital. MIKTI berdiri sejak 2008 yang mencakup pelaku industri digital nasional udengan kurikulum untuk terbentuknya ekosistem yang kompetitif.

(Baca: Gojek Tanggapi Kabar Akuisisi Startup Kasir Digital, Moka)

Reporter: Michael Reily

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

VIDEO PILIHAN