Sri Mulyani Akan Tekan Porsi Asing yang Kuasai Surat Utang Rp 1.005 T

Penulis: Agatha Olivia Victoria

Editor: Agustiyanti

19/8/2019, 19.49 WIB

Guna menurunkan porsi asing di surat utang, Sri Mulyani akan memperbesar peran domestik agar ekonomi Indonesia tidak rentan dengan pengaruh global.

Rupiah
Arief Kamaludin|KATADATA
Ilustrasi. Berdasarkan data Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kemenkeu per 15 Agustus 2019, porsi investor asing di outsanding SBN pemerintah mencapai Rp1.005 triliun.

Kementerian Keuangan mencatat Surat Berharga Negara (SBN) atau surat utang terbitan pemerintah yang digenggam investor asing mencapai Rp 1.005 triliun atau 38,49% dari total outstanding  SBN. Hal tersebut terungkap dari data Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kemenkeu per 15 Agustus 2019.

Kendati porsinya cukup tinggi saat ini, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati optimistis porsi utang asing di Indonesia akan turun dalam waktu dekat. Ia pun menargetkan porsi kepemilikan asing dalam Surat Utang Negara hanya tersisa 20%.

"Saat ini asing sekitar 30%, kita harapkan bisa mencapai 20% pada masa yang cukup dekat," ujarnya di Gedung DPR, Jakarta, Senin (19/8).

(Baca: Pemerintah Bakal Berutang Rp 351,9 Triliun Tahun Depan, Turun 5,9%)

Guna menurunkan porsi asing, Sri Mulyani akan memperbesar peran domestik agar ekonomi Indonesia tidak rentan dengan pengaruh global. "Semakin besar basis domestik, akan menimbulkan lebih banyak stabilisasi karena memahami kondisi pasar kita. Jadi tidak mudah dipicu oleh perubahan kebijakan yang berasal dari luar," ucap dia.

Peningkatan kepemilikan investor domestik, menurut dia, juga dilakukan untuk mengantisipasi aliran modal asing keluar dari instrumen keuangan di Tanah Air. Pasalnya, kondisi ekonomi global yang tidak menentu sering kali membuat investor asing memutuskan menarik portofolio investasinya dari Indonesia.

(Baca: Lima Negara Ekonomi Besar Terancam Resesi )

Langkah untuk memperbesar porsi domestik, menurut dia, akan dilakukan dengan memperbanyak  instrumen surat utang retail dan memudahkan proses transaksi melalui aplikasi berbasis internet.

"Ini butuh sosialisasi terus-menerus. Pokoknya kita usahakan terus saja, kalau Indonesia sekarang growing middle class kita sudah cukup tumbuh tinggi," jelasnya.

Reporter: Agatha Olivia Victoria

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

VIDEO PILIHAN