Pengusaha Berharap Ada Insentif untuk Industri Fesyen Ramah Lingkungan

Penulis: Rizky Alika

Editor: Desy Setyowati

3/9/2019, 10.44 WIB

Bahan baku industri fesyen berkelanjutan harus ramah lingkungan. Pengusaha juga mengalokasikan dana untuk atasi limbah.

pengusaha berharap ada insentif bagi industri fesyen yang ramah lingkungan
Ajeng Dinar Ulfiana | KATADATA
Ilustrasi, uasana pameran pada ajang Indonesia Fashion Week (IFW) 2019 di Jakarta Convention Center, Jakarta, Rabu (27/3/2019). Kadin berharap pemerintah memberikan insentif bagi pengusaha di industri fesyen berkelanjutan.

Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia berharap pemerintah memberikan insentif khusus bagi pengusaha di industri fesyen berkelanjutan (sustainable fashion). Sebab, biaya produksinya lebih mahal ketimbang bisnis sejenis.

Namun, Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Hubungan Internasional Shinta Kamdani tidak merinci biaya produksi industri fesyen yang ramah lingkungan ini dibanding lainnya. "Industri sustainable fashion harus ada insentifnya. Apakah fiskal atau dari segi pembiayaan," kata dia di kantornya, Jakarta, Senin (2/9).

Biaya produksi yang tinggi disebabkan oleh bahan baku yang ramah lingkungan dan bertahan lama. Ia mencontohkan, serat rayon (viscose rayon) yang berasal dari pohon dan dapat terurai alami.

Industri ini juga harus menyediakan anggaran lebih guna menangani limbah yang dihasilkan. Hal itu membuat pelaku usaha terpaksa menaikan harga jual produk. Padahal, pasar industri fesyen berkelanjutan belum terlalu besar.

Oleh karena itu, Shinta menyarankan adanya insentir dari pemerintah baik dalam bentuk pajak maupun pembiayaan. "Bisa tidak bank memberikan bunga bank yang lebih baik bagi industri sustainable fashion," katanya.

(Baca: RI Mampu Jadi Pemain Fesyen Besar Dunia karena Produksi Bahan Ini)

Selain itu, ia menilai perlu ada insentif berupa kemudahan perizinan investasi. Ia berharap, stimulan seperti ini dapat memudahkan pelaku usaha memproduksi fesyen yang ramah lingkungan.

Shinta juga berharap penyedia dan produsen bahan baku, pengusaha tekstil, perancang busahan hingga distributor menyamakan persepsi terkait lingkungan. Dengan begitu, ada visi bersama antarpelaku usaha di ekosistem ini.

Apalagi, ia memperkirakan bahwa fesyen ramah lingkungan menjadi tren ke depan. Sebab, masyarakat dunia mulai sadar akan isu lingkungan. Hal itu tentu akan berpengaruh terhadap pelaku usaha, termasuk fesyen.

(Baca: Fesyen Lokal This Is April Akan Ekspansi ke Brunei dan Singapura)

Tren itu tampak dari permintaan serat rayon pun yang meningkat. Data Fibre2fashion menunjukkan, konsumsi serat rayon akan meningkat di Asia Pasifik pada 2023. Potensi pertumbuhan tertinggi berada di Tiongkok sebesar 6,1%, diikuti India 7,2%, dan Indonesia 5,7%.

Salah satu penghasil serat rayon adalah PT Asia Pacific Rayon (APR). Direktur APR Basrie Kamba mengatakan serat tersebut bersifat sejuk, nyaman, dan memiliki warna yang lebih cemerlang. Rayon juga  dapat digabung dengan bahan mentah tekstil lainnya seperti katun dan polyester.

(Baca: Bekraf Cari Talenta Desainer untuk Tembus Pasar Global)

Reporter: Rizky Alika

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan