Gelombang Demonstrasi DPR dan Laris-Manisnya Pedagang Masker

Penulis: Muchamad Nafi

1/10/2019, 10.23 WIB

Omzet Mang Yana dari berjualan masker bisa mencapai Rp 700 ribu sehari, jauh lebih banyak dibandingkan hari biasa yang hanya sekitar Rp 200 ribu.

Gelombang Demonstrasi DPR dan Laris-Manisnya Pedagang Masker
Ajeng Dinar Ulfiana | KATADATA
Sejumlah mahasiswa berada di stasiun Pal Merah menuju ke gedung depan DPR/MPR RI, Jakarta (24/9). Demonstran merebak di sejumlah daerah di Indonesia memprotes rencana pemerintahan Joko Widodo dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) mengesahkan sejumlah rancangan undang-undang.

Ribuan pedemo yang membanjiri kompleks Parlemen di Senayan, Jakarta, sepanjang dua pekan terakhir, rupanya membawa berkah tersendiri bagi para pedagang. Setiap ada aksi unjuk rasa, mereka telah bersiaga sejak pagi, bahkan ketika fajar baru bersinar, seperti hari ini ketika para anggota DPR, MPR, dan DPD RI periode 2019-201 hendak dilantik.

Sejumlah pedagang masker dan handuk bersiaga menggelar dagangannya di sekitar Gedung DPR/MPR. Novan seorang pedagang masker dan handuk. Dia menyatakan sangat bersyukur dalam beberapa hari terakhir karena barangnya banyak yang laku dibanding hari-hari biasa. “Ada demo jadi ramai yang beli,” kata Novan.

Novan mulai berjualan dari pukul 06.30 WIB. Lelaki 35 tahun itu berangkat dari Kampung Melayu, berkeliling seputar gedung DPR untuk menawarkan handuk segi empat, slayer persegi empat, buff, dan masker buff kepada orang-orang yang ditemuinya.

Petugas kepolisian, wartawan, hingga masyarakat yang lalu lalang di sekitar area demonstrasi, kemarin hingga pagi ini, sudah banyak yang membeli barang dagangannya. Ia menjajakan bersama pedagang kaki lima lainnya sejak pekan lalu.

(Baca: Usai Demonstrasi Ricuh, Tol Dalam Kota Selasa Pagi Beroperasi Normal)

Ia berhitung, dari pukul 07.00 WIB sampai dengan 15.00 WIB, dagangannya laris-manis diborong pembeli. “Ya lumayan banyak. Kalau enggak kenapa saya balik lagi jualan,” ujarnya.

Hal yang sama juga dirasakan, Mang Yana, pedagang masker lainnya. Dari jualan hari kemarin, pria 45 tahun ini memperoleh omzet Rp 700 ribu. Jumlah ini lebih banyak dari penjualan hari biasa ketika berkeliling di Pasar Kramatjati yang paling banyak mengantongi Rp 200 ribu.

Menurut Mang Yana, ada sekitar 15 pedagang seperti dirinya yang berjualan di tengah demonstrasi. Satu masker dijual Rp 5.000, masker buff Rp 10 ribu, handuk kecil segi empat Rp 5.000, dan slayer segi empat seperti bandana dijual Rp10 ribu. “Kebanyakan yang beli polisi, demonstran mah jarang,” kata Yana.

Tadi saja, sekitar pukul 07.30 WIB, Mang Yana sudah menjual empat masker buff seharga Rp 10 ribu yang dibeli anggota polisi. Seorang anggota polisi yang membeli masker milik Yana mengatakan lupa membawa masker miliknya. “Lupa dibawa, tertinggal di motor,” kata petugas Polantas dari Polda Metro Jaya tersebut.

(Baca: Analis KIC: Dampak Demonstrasi ke IHSG Kecil, Pasar Memang Bearish)

Pagi tadi, suhu di Jalan Gatot Subroto cukup panas dan aroma perih sisa gas air mata dari kericuhan semalam masih terasa menyengat di mata, hidung dan tenggorokan. Menjelang pelantikan DPR, MPR dan DPD RI, dalam satu minggu terakhir terjadi demo yang diinisiasi oleh mahasiswa dari berbagai universitas di Indonesia.

Mereka di antaranya menuntut tujuh hal dengan target utama menolak revisi Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), UU Pertambangan Minerba, Pertanahan, Permasyarakatan, dan revisi UU Ketenagakerjaan. Selain itu mereka mendesak UU tentang Komisi Pemberantasan Korupsi yang sudah disahkan untuk dibatalkan.

Reporter: Antara

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan