Chatib Basri : BPS Perlu Perluas Statistik ke e-Commerce

Penulis: Agustiyanti dan Agatha Olivia Victoria

10/10/2019, 22.57 WIB

Chatib Basri menduga inflasi bisa lebih rendah jika BPS memperhitungkan harga barang dan jasa di e-commerce yang biasanya lebih murah dari toko offline.

Chatib Basri KATADATA|Donang Wahyu
Donang Wahyu|KATADATA
Mantan Menteri Keuangan Chatib Basri menilai sudah waktunya Badan Pusat Statistik (BPS) untuk memperhitungkan harga barang dan jasa yang dijual melalui penjual online (e-Commerce), salah satunya Tokopedia dalam perhitungan inflasi. (Katadata/Donang Wahyu)

Mantan Menteri Keuangan Chatib Basri menilai sudah waktunya Badan Pusat Statistik (BPS) untuk memperhitungkan harga barang dan jasa yang dijual melalui penjual online (e-Commerce), salah satunya Tokopedia dalam perhitungan inflasi. Pasalnya, e-commerce saat ini menjual barang lebih murah lantaran memangkas sejumlah hambatan yang selama ini dihadapi penjualan offline.

"Siapa tahu inflasi kita tidak setinggi seperti yang kita kira saat ini karena mungkin harga barang-barang jauh relatif lebih kecil, seperti di Tokopedia. Jadi dibandingkan dengan yang tercatat sudah mulai berbeda," ujar Chatib dalam diskusi Dampak Tokopedia terhadap Perekonomian Indonesia yang diselenggarakan Katadata bekerja sama dengan LPEM UI di Jakarta, Kamis (10/10).

(Baca: Riset UI: Tokopedia Kerek Penjualan Pengusaha Lokal Hingga 22% )

Chatib menjelaskan e-commerce seperti Tokopedia memudahkan pelaku usaha untuk menjual barang dagangannya antar wilayah. Hal ini membuat proses desentralisasi ekonomi terjadi.

"Apa yang dilakukan Tokopedia ini dapat mempertemukan pedagang kopi di Sulawesi dengan pembelinya yang mungkin ada di Jakarta. Pada akhirnya ini berkontribusi pada biaya transaksi yang lebih kecil," terang dia.

Riset Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) menyebut bahwa perusahaan dagang online (e-commerce ) Tokopedia mampu meningkatkan penjualan pelaku usaha lokal secara nasional sebesar 22% pada 2018. Kenaikan penjualan mayoritas dialami pelaku usaha di luar pulau Jawa.

(Baca: Sri Mulyani : Ekonomi Digital di Indonesia Berpotensi Capai US$ 130 M)

Riset itu juga menemukan bahwa ada lima provinsi yang mengalami penurunan ongkos transportasi terbesar pada e-commerce tersebut. Kelima provinsi itu antara lain yaki Aceh, Bengkulu, Kalimantan Selatan, Nusa Tenggara Barat, dan Maluku Utara.

Sementara itu berdasarkan data BPS, inflasi sepanjang tahun ini hingga September 2019 (year to date) tercatat sebesar 2,2%. Sementara inflasi tahunan tercatat pada September tercatat sebesar 2,9%.

Adapun BI memperkirakan inflasi sepanjang tahun ini akan terkendali dan berada di bawah 3,5%. Berikut data inflasi sejak Agustus 2017 hingga Agustus 2019. 

 

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan