Pesaing WhatsApp, Telegram Kembangkan Mata Uang Digital dan Blockchain

Penulis: Tri Kurnia Yunianto

Editor: Desy Setyowati

11/10/2019, 17.23 WIB

Telegram berencana meluncurkan mata uang digital dan blockchain pada bulan ini.

Pesaing WhatsApp, Telegram mengumumkan secara resmi bakal meluncurkan mata uang digital dan blockchain
ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja
Ilustrasi, suasana konfrensi pers tentang Perkembangan Penutupan Akses Layanan Telegram di kantor Kementerian Komunikasi dan Informatika, Jakarta, Senin (17/7). Pesaing WhatsApp, Telegram mengumumkan secara resmi bakal meluncurkan mata uang digital dan blockchain.

Pesaing WhatsApp, Telegram resmi mengumumkan bakal membuat blockchain sendiri, bernama Telegram Open Network (TON). Teknologi ini untuk melengkapi mata uang digital (cryptocurrency) yang tengah dikembangkan Telegram, Gram.

Bursa penukaran mata uang digital berbasis di Amerika Serikat (AS), Coinbase pun menyatakan dukungannya dan menawarkan layanan kustodian aset. “Kami memiliki rekam jejak dalam memberikan solusi kustodian tanpa hambatan (seamless) saat peluncuran (cryptocurrency) yang pertama dan terbesar di Blockstack dan Algorand,” demikian dikutip dari akun resminya di Twitter, @CoinbaseCustody, Jumat (11/10).

Perusahaan penyedia aplikasi perpesanan itu mengumumkan secara resmi bakal menerbitkan Gram dan TON, pada 8 Oktober lalu. Telegram lebih dulu meluncurkan dompet digital untuk Gram, bernama Telegram FZ-LCC. Namun, aplikasi versi alpha itu baru tersedia di iOS.

(Baca: Incar Dana Rp 16 Triliun, Telegram Diisukan Rilis Mata Uang Digital)

Dalam situs resminya, Telegram bakal mengintegrasikan dompet digitalnya itu dengan aplikasi percakapannya. Perusahaan asal Rusia itu mengatakan, tidak akan menyimpan informasi pribadi penggunanya.

“Anda bertanggung jawab penuh untuk pengelolaan dan keamanan kredensial Anda. Jika Anda kehilangan kredensial, kami tidak memiliki kemampuan untuk memulihkan atau membantu Anda untuk mengambilnya kembali, dan Anda mungkin tidak dapat mengakses Gram Anda,” demikian dikutip dari situs resmi Telegram.

Perusahaan juga menyatakan tidak memiliki kendali atas pemrosesan dan verifikasi transaksi pada TON. Maka, ketika pengguna mengirimkan Gram, Telegram tidak punya wewenang untuk membatalkan atau memodifikasi transaksi.

“Kami tidak memiliki kendali atas TON Blockchain dan tidak memiliki kemampuan untuk memfasilitasi segala permintaan pembatalan atau modifikasi untuk transaksi yang telah Anda kirimkan,” demikian dikutip.

(Baca: Kadin Sarankan Pelaku E-commerce Adaptasi Blockchain Agar Tak Bangkrut)

Blockchain adalah teknologi yang mencatat semua transaksi. Dengan begitu, salah satu atau beberapa pihak tidak bisa mengklaim data tertentu, sebab semua pengguna memiliki catatan transaksi melalui blockchain. Sistem ini disebut-sebut menciptakan efisiensi dan mencegah penipuan.

Rencananya, Telegram meluncurkan Gram dan TON pada bulan ini. Hal ini diumumkan Telegram setelah memperoleh modal US$ 1,7 miliar sejak tahun lalu.

Sebelum Telegram, induk WhatsApp yakni Facebook lebih dulu mengembangkan mata uang digital, Libra. Namun, upaya Facebook menerbitkan Libra dihadang Komite Layanan Keuangan AS.

Pemerintah AS meragukan keamanan Libra, mengingat Facebook pernah tersandung kasus kebocoran data jutaan penggunannya. Proyek mata uang digital itu pun berpotensi kandas. Sebab, salah satu anggota Asosiasi Libra yakni PayPal memutuskan keluar.

(Baca: PayPal Keluar dari Proyek Uang Digital Facebook Libra)

Reporter: Tri Kurnia Yunianto

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan