Menteri ESDM Targetkan Seluruh Proyek RDMP Pertamina Rampung Pada 2024

Penulis: Ratna Iskana

1/11/2019, 19.02 WIB

Untuk proyek kilang baru (GRR) diharapkan pembangunannya sudah berjalan dalam lima tahun ke depan.

kilang
Ajeng Dinar Ulfiana | KATADATA
Dua orang petugas melintas di area Refinery Unit V Pertamina Balikpapan Kalimantan Timur (22/7). Kilang Balikpapan merupakan salah satu proyek Refinery Development Masterplan Program (RDMP) yang ditargetkan rampung pada 2024.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif mendorong Pertamina untuk segera menyelesaikan proyek pengembangan kilang atau Refinery Development Master Plan (RDMP). Dia bahkan menargetkan proyek tersebut bisa rampung dalam lima tahun ke depan.

Target tersebut lebih cepat dua tahun dari target Pertamina pada 2026. "Yang RDMP pasti mungkin, pasti bisa," ujar Arifin di Gedung Kementerian ESDM, Jumat (1/11).

Pertamin memang mengerjakan beberapa proyek RDMP. Namun, baru proyek RDMP Balikpapan yang sejauh ini sudah memulai konstruksi.

Sedangkan proyek RDMP lainnya terkesan jalan di tempat. Contohnya, RDMP Cilacap yang bekerja sama dengan Saudi Aramco. Hingga kini kedua perusahaan masih membahas mengenai valuasi dan spin off aset.

Arifin pun mendesak Pertamina agar proyek RDMP Cilacap bisa segera berjalan. "Harus kami percepat, harus signing dalam tahun ini, mudah-mudaha," ujar Arifin.

Sedangkan untuk proyek kilang baru atau Grass Root Refinery (GRR) diharapkan sudah berjalan pada 2024. Ini lantaran proyek pembangunan kilang baru membutuhkan banyak tahapan, diantaranya feasibility study, land clearing, financial support, hingga Engineering Procurement Construction (EPC).

"Yang grass root harus jalan, walaupun tidak pada periode kedua (Presiden Joko Widodo), tapi kalau bisa lebih cepat kenapa tidak,"katanya.

(Baca: Erick Beri Tenggat Pertamina-Aramco Sepakati Kilang Cilacap Tahun Ini)

Pasalnya, pembangunan kilang penting untuk meningkatkan kapasitas produksi BBM di dalam negeri. Dengan peningkatan kapasitas kilang, Pertamina bisa mendapatkan pasokan BBM yang lebih stabil.

"Kalau short of suplay mendadak, kita terpaksa harus cari barang di pasar, harga mahal, kalau ada di sini kan stabil terus," ujarnya.

Pertamina juga dapat menghemat biaya pengadaan BBM jika dapat mengolah minyak di dalam negeri. Pasalnya, setiap kali mengimpor BBM, Pertamina harus membayar biaya pengolahan dan margin ke perusahaan minyak luar negeri.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sepanjang periode 2009-2019 volume impor migas nasional telah meningkat 36,4% menjadi 49,1 juta ton atau rata-rata 3,6% per tahun. Impor gas mencatat kenaikan tertinggi, yakni lebih dari 471% menjadi 5,5 juta ton dari 970 ribu ton pada 2009. 

Adapun impor minyak mentah periode 2009-2018 meningkat 10,64% menjadi 16,9 juta ton. Demikian pula impor hasil minyak/minyak olahan naik 35% menjadi 26,6 juta ton. Data selengkapnya terkait volume impor migas Indonesia dalam grafik Databoks berikut ini :

 

Reporter: Verda Nano Setiawan

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan