Harga Minyak Turun di Tengah Pembicaraan Dagang AS - Tiongkok

Penulis: Ratna Iskana

4/11/2019, 09.22 WIB

Ada kekhawatiran tidak tercapainya kesepakatan dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok. Perang dagang pun kemungkinan berlanjut.

harga minyak
Katadata
ilustrasi, kilang minyak. Harga minyak melemah pada Senin (4/11) di tengah pembicaraan dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok.

Harga minyak dunia melemah pada Senin (4/11) di tengah harapan kesepakatan dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok. Mengutip Reuters, harga minyak Brent turun 0,1% menjadi US$ 61,63 per barel dan minyak West Texas Intermediate (WTI) turun 0,11% ke level $56,14 per barel.

 

AS dan Tiongkok kompak menyatakan perkembangan pembicaraan yang bakal mengakhiri perang dagang yang telah berlangsung selama 16 bulan. Pemerintah AS bahkan menyatakan kesepakatan dagang bisa ditandatangani pada bulan ini. 

Namun, analis dari National Australia Bank menyatakan perang dagang AS-Tiongkok bisa saja tak berakhir karena ada beberapa isu yang mungkin tak disepakati. "Banyaknya kemajuan pembicaraan dagang AS-Tiongkok menuju satu fase kesepakatan yang pasti, namun ada isu yang menjadi perdebatan antara rencana AS yang membatalkan rencana penerapan tarif pada Desember dan menyingkirkan tarif saat ini dengan permintaan Tiongkok yang belum diketahui, dan jika isu ini tidak diselesaikan maka kesepakatan sangat mungkin tak terjadi," seperti dikutip dari Reuters pada Senin (4/10). 

(Baca: Stabilitas Sistem Keuangan RI Dibayangi Perang Dagang AS-Tiongkok)

Perundingan perdagangan antara AS dan Tiongkok berjalan dengan baik. Media pemerintah Beijing Xinhua News Agency mengatakan dua negara ekonomi terbesar di dunia tersebut telah mencapai prinsip-prinsip dalam perundingan perang dagang. Pembicaraan tersebut dilakukan melalui sambungan telepon antara negosiator AS dan Tiongkok.

Penasihat ekonomi Gedung Putih Larry Kudlow mengatakan perunding AS dan Tiongkok telah membuat kemajuan besar menuju penyelesaian perjanjian tahap pertama, meskipun kesepakatan tersebut belum 100% rampung.

"Hal ini dapat meningkatkan prospek ekonomi global - khususnya di Asia yang paling terkena imbas akibat dampak perang dagang," kata John Kilduff, mitra di Again Capital Management di New York.

Survei Reuters menunjukkan harga minyak diperkirakan akan tetap di bawah tekanan pada tahun ini dan tahun berikutnya. Jajak pendapat 51 ekonom dan analis memproyeksikan harga rata-rata minyak mentah Brent berada di level US$ 64,16 per barel pada 2019 dan US$ 62,38 pada tahun depan.

(Baca: AS dan Tiongkok Cari Lokasi Baru Teken Kesepakatan Dagang)

 

Reporter: Verda Nano Setiawan

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan