Luhut Sebut Sudah Ada Alternatif Pengganti Aramco di Kilang Cilacap

Penulis: Verda Nano Setiawan

Editor: Martha Ruth Thertina

11/11/2019, 17.45 WIB

Pertamina dan Saudi Aramco belum juga menemukan titik temu terkait valuasi aset kilang Cilacap. Selisih valuasi aset sekitar US$ 1,5 miliar.

Kilang Cilacap, Kilang Pertamina, Pertamina, Saudi Aramco, Luhut
ANTARA FOTO/Idhad Zakaria

Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan membuka peluang masuknya investor lain sebagai mitra Pertamina dalam megaproyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Cilacap. Penyebabnya, negosiasi antara Pertamina dengan mitranya saat ini Saudi Aramco berjalan alot.

Pertamina dan Saudi Aramco belum juga menemukan titik temu terkait valuasi aset kilang Cilacap. Alhasil, megaproyek tersebut belum bisa berjalan. Luhut mengatakan, selisih valuasi aset sekitar US$ 1,5 miliar. "Kalau masih tetap segitu kami lihat pilihan lain, tapi sudah ada pilihan lain," ujarnya di Gedung Kemenko Maritim, Senin (11/11).

(Baca: Menteri ESDM Targetkan Seluruh Proyek RDMP Pertamina Rampung Pada 2024)

Sebelumnya, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir juga menyinggung soal kemungkinan masuknya investor baru. Ia mengatakan pihaknya terus mendorong agar kesepakatan bisa terjadi antara Pertamina dan Aramco. Namun, pihaknya punya tenggat.

"Sampai Desember kami lihat, sepakat atau tidak. Kalau tidak kami cari alternatif lain. Ya bisa cari partner lain juga, tapi kami usahakan yang sudah disepakati oleh kedua negara," ujarnya.

Investasi untuk proyek RDMP Cilacap ditaksir mencapai US$ 5 miliar. Dengan investasi tersebut, kapasitas kilang Cilacap diharapkan meningkat dari 348 ribu barel per hari menjadi 400 ribu barel per hari dengan spesifikasi Euro V, petrokimia dasar (basic petrochemical), dan Group II Base Oil untuk pelumas.

(Baca: Pertamina Optimistis Valuasi Proyek Kilang Cilacap Rampung Desember)

Pertamina dan Aramco telah membentuk perusahaan patungan sejak 22 Desember 2016 untuk proyek tersebut. Pertamina memegang saham sebesar 55% dan Saudi Aramco sebesar 45%. Kala itu, Pertamina dan Aramco menargetkan proyek RDMP Cilacap bisa dimulai pada 2021.

Namun, hingga kini, proyek kilang Cilacap masih terhalang kesepakatan terkait valuasi dan spin off aset. Di sisi lain, Aramco justru begitu gencar berinvestasi kilang di negara lain, seperti Tiongkok dan Malaysia.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan