SKK Migas Dukung Kementerian ESDM yang Bebaskan Investor Pilih Kontrak

Penulis: Verda Nano Setiawan

Editor: Happy Fajrian

2/12/2019, 14.26 WIB

Kementerian ESDM ingin membebaskan investor memilih skema kontrak migas yang diinginkannya untuk mendorong investasi di sektor ini.

skk migas, kontrak migas, bagi hasil migas, kementerian esdm
Katadata
Ilustrasi blok migas. SKK Migas mendukung langkah Kementerian ESDM yang akan membebaskan investor migas memilih skema kontrak migas yang diinginkannya.

Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mendukung langkah Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif yang ingin membebaskan investor dalam memilih skema dalam kontrak bagi hasil migas.

Kepala Divisi Program dan Komunikasi SKK Migas Wisnu Prabawa Taher mengatakan pihaknya akan mendukung kebijakan yang nantinya akan diambil oleh Pemerintah. Apalagi menurut Wisnu, jika hal tersebut menyangkut mengenai upaya dalam menarik investor migas besar masuk ke Indonesia.

"Kami mendukung dan akan mengikuti arahan Pak Menteri membuka pilihan mana yang baik untuk investor, dalam rangka meningkatkan daya tarik investasi di hulu migas," ujar Wisnu, Senin (2/12).

Sebelumnya, Menteri ESDM Arifin Tasrif kembali mempertimbangkan hadirnya kontrak bagi hasil cost recovery bagi investor migas. Saat ini, pemerintah mewajibkan perusahaan migas menggunakan skema gross split.

(Baca: Kementerian ESDM Ingin Dengarkan Masukan Investor soal Kontrak Migas)

Dalam rapat kerja dengan anggota Komisi VII DPR RI, Arifin mengungkapkan, perlu adanya evaluasi terhadap pola bisnis serta investasi di sektor migas. Evaluasi ini sesuai dengan arahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk segera memetakan regulasi yang menghambat laju investasi.

Jika kebijakan pemilihan dua skema ini jadi diimplementasikan, investor pun bisa memilih skema bagi hasil mana yang terbaik bagi lapangan migasnya masing-masing.

Namun, Arifin tidak merinci apakah fleksibilitas memilih skema itu berlaku untuk blok migas kontrak baru atau terminasi yang habis kontrak. Ia hanya mengatakan, dua skema tersebut mempunyai nilai lebih masing-masing.

Sepengetahuan Arifin, investor yang mengeksplorasi wilayah kerja baru dengan tingkat risiko tinggi biasanya memilih menggunakan skema cost recovery. Namun ada juga investor yang sejak awal lebih senang menerapkan skema gross split karena memberikan kepastian investasi di awal.

(Baca: Dorong Investasi, Perusahaan Migas Akan Bisa Pilih Skema Bagi Hasil)

Reporter: Verda Nano Setiawan

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan