Masih Ada Asa Kesepakatan Dagang AS-Tiongkok, Rupiah Menguat 0,22%

Penulis: Agatha Olivia Victoria

Editor: Happy Fajrian

5/12/2019, 16.06 WIB

Masih ada harapan AS dan Tiongkok akan meneken perjanjian dagang tahap I meski Beijing mengecam campur tangan AS di Hong Kong dan Xinjiang.

nilai tukar rupiah, kesepakatan dagang, perang dagang
Arief Kamaludin|KATADATA
Ilustrasi nilai tukar. Rupiah menguat 0,22% terhadap dolar AS sore ini seiring optimisme tercapainya kesepakatan dagang antara AS dan TIongkok.

Nilai tukar rupiah pada perdagangan sore ini, Kamis (5/12), menguat 0,22% terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ke level Rp 14.074/US$. Penguatan mata uang Garuda didorong oleh  kemungkinan hampir tercapainya kesepakatan dagang AS dan Tiongkok.

Selain rupiah, mayoritas mata uang Asia juga menguat terhadap dolar AS. Mengutip Bloomberg, dolar Singapura menguat 0,13%, dolar Taiwan 0,06%, won Korea Selatan 0,36%, peso Filipina 0,42%, rupee India 0,02%, yuan Tiongkok 0,09%, dan ringgit Malaysia 0,11%.

Meski begitu, yen Jepang, dolar Hong Kong, dan baht Thailand terpantau melemah. Yen turun 0,03%, baht 0,14%, sedangkan dolar Hong Kong melemah satu poin.

Sementara itu berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau JISDOR, rupiah hari ini berada pada posisi Rp 14.094/US$, menguat 31 poin dibandingkan level penutupan perdagangan kemarin.

(Baca: Rupiah Menguat Tipis Dipicu Komentar Trump Soal Negosiasi Dagang)

Vice President Monex Investindo Futures Ariston Tjendra mengatakan, negosiator AS dan Tiongkok saat ini membicarakan berapa jumlah tarif yang bisa dihapus. "Kesepakatan fase satu diperkirakan sudah dekat," kata Tjendra kepada Katadata.co.id, Kamis (5/12).

Menurut dia, negosiasi AS dan Tiongkok masih berlangsung meski ada ketegangan politik akibat dirilisnya Undang-Undang (UU) Hong Kong dan Rancangan Undang-Undang (RUU) Xinjiang oleh AS.

Sebagaimana diketahui, Presiden AS Donald Trump sebelumnya telah menandatangani UU demokrasi di Hong Kong. Pemerintah Tiongkok pun langsung mengecam aksi ini sebagai upaya campur tangan AS terhadap urusan dalam negeri Tiongkok dan menyatakan siap mengambil langkah tegas untuk membalas AS.

Dengan adanya UU pro-demokrasi Hong Kong, AS bisa menjatuhkan sanksi bagi para pejabat Tiongkok dan Hong Kong yang diduga melanggar hak asasi manusia (HAM), termasuk larangan visa dan pembekuan aset.

(Baca: Pembicaraan Dagang AS - Tiongkok Dorong ICP Capai US$ 63,2/Barel)

Aturan ini juga mengharuskan Departemen Luar Negeri setiap tahun meninjau status otonomi khusus yang diberikan di wilayah sebagai pertimbangan perdagangan AS guna membantunya mempertahankan posisi sebagai pusat keuangan dunia.

Selain itu, Parlemen AS juga baru saja meloloskan RUU terkait perlakuan Beijing terhadap minoritas Muslim Uighur di Provinsi Xinjiang. RUU yang dinamakan The Uighur Act 2019 ini akan memberikan kewenangan pada AS untuk menjatuhkan sanksi ke Tiongkok atas dugaan persekusi pada Muslim Uighur. 

Lebih lanjut, Tjendra menuturkan penguatan rupiah juga dibantu oleh rilis data AS semalam yang di bawah ekspektasi. Data tersebut yakni data tenaga kerja non farm payroll versi ADP dan data indeks non-manufaktur versi ISM. "Kedua data AS ini melemahkan dolar AS," ucap dia.

Meski demikian, dia menilai pasar masih mewaspadai perkembangan negosiasi dagang ini. Pernyataan yang negatif, sambungnya, dapat membalikkan situasi.

(Baca: Luhut Sebut Nilai Tukar Rupiah Bisa di Bawah Rp 10 Ribu per Dolar)

Reporter: Agatha Olivia Victoria

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan