Wakil Menlu Ungkap 3 Peluang Adopsi Teknologi Blockchain di Indonesia

Penulis: Cindy Mutia Annur

Editor: Desy Setyowati

11/12/2019, 18.10 WIB

Pemerintah juga menganalisis risiko dari adopsi teknologi blockchain di Indonesia.

Wakil Menteri Luar Negeri Mahendra Siregar mengatakan, ada tiga hal yang membuat blockchain berpeluang diadopsi di Indonesia
123rf
Ilustrasi digital

Wakil Menteri Luar Negeri Mahendra Siregar mengatakan, blockchain diminati beberapa perusahaan di Indonesia. Setidaknya ada tiga hal yang membuat teknologi ini berpeluang diadopsi di Tanah Air.

Peluang pertama, mayoritas masyarakatnya berusia muda yakni rerata 28-29 tahun. Artinya, masih ada sekitar 15 tahun lagi untuk menghadapi bonus demografi. Dalam hal ini, pasar Indonesia lebih potensial dibanding negara maju.

Dibanding Tiongkok misalnya, mayoritas masyarakatnya memasuki usia tua (aging society). Banyaknya penduduk muda di Indonesia seharusnya pengembangan teknologinya masif. 

Kedua, penduduk usia muda biasanya melek digital alias digital savvy. Mereka juga cukup aktif menggunakan ponsel hingga komputer.  (Baca: Kadin Sarankan Pelaku E-commerce Adaptasi Blockchain Agar Tak Bangkrut)

Terakhir, Mahendra mengatakan bahwa demokrasi di Indonesia cukup baik. “Negara kita punya (nilai) demokrasi itu,” kata di sela-sela acara Let's Talk Blockchain di Jakarta, hari ini (11/12). Tanpa hal itu, adopsi teknologi bakal menuai banyak perdebatan.

Hal seperti itu, kata dia, jarang terjadi di Indonesia. Meski begitu, pemerintah dan pelaku usaha menganalisis potensi persoalan jika mengadopsi teknologi blockchain.

"Regulasi jangan terlalu cepat karena bisa menahan kreativitas pengembangan teknologi,” kata dia. Tetapi, pemerintah juga harus memastikan regulasinya ada.

(Baca: Gojek Gandeng Startup Blockchain untuk Hadirkan Go-Pay di Filipina)

Menurut dia, Indonesia perlu belajar terkait regulasi tentang industri berbasis digital. Bukan hanya dalam hal risiko, tetapi juga mempromosikan nilai tambah dari teknologi yang diadopsi.

Sejauh ini, menurutnya sektor finansial yang berpotensi mengadopsi blockchain. "Dengan blockchain bisa melihat proses transaksi suatu perusahaan dari konteks yang lebih utuh ketimbang hanya mengkaji profitnya. Saya rasa ini peluang bagi kita untuk menggunakan blockchain lewat teknologi finansial (fintech)," ujarnya.

Selain sektor keuangan, pertambangan, pertanian hingga perikanan juga berpeluang mengadopsi blockchain.  (Baca: Pebisnis : Blockchain Tepat untuk Pemetaan Geografis Kopi)

Reporter: Cindy Mutia Annur

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan