Bos Google dan Microsoft Beda Pendapat soal Pengaturan AI di Eropa

Penulis: Cindy Mutia Annur

Editor: Desy Setyowati

21/1/2020, 14.59 WIB

Uni Eropa ingin mengatur AI, termasuk pengenalan wajah. Namun, Bos Google dan Microsoft beda pendapat soal itu.

Pernah Dipakai Facebook, Google Ingin Teknologi Pengenal Wajah Diatur
123RF.com/Artem Oleshko
Ilustrasi teknologi pengenalan biometrik atau pengenalan wajah (facial recognition).

Induk usaha Google, Alphabet menilai teknologi pengenalan wajah (facial recognition) berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) perlu diatur. Namun,  Microsoft menilai regulator di Uni Eropa perlu hati-hati, supaya tidak menghambat pengembangan teknologi.

Kepala Eksekutif Alfabet Sundar Pichai khawatir AI itu digunakan untuk tujuan jahat. “Saya pikir penting bagi pemerintah dan regulator menangani ini lebih cepat, dan memberikan kerangka kerja terkait itu,” katanya dalam konferensi di Brussels, dikutip dari Reuters, kemarin (20/1).

Pernyataan itu menanggapi rencana Uni Eropa mengatur tentang kecerdasan buatan. Sebagaimana diketahui, AI bisa disematkan dengan teknologi lain seperti pengenalan wajah.

"Ini bisa langsung tetapi mungkin ada masa tunggu sebelum kita benar-benar memikirkan bagaimana itu digunakan," kata Pichai. “Terserah pemerintah untuk menentukan arah (penggunaan AI).”

Tindak kejahatan menggunakan AI salah satunya deepfakes, yakni video atau audio yang dimanipulasi. (Baca: Facebook Kembangkan Aplikasi Khusus Karyawan untuk Kenali Wajah)

Uni Eropa sebenarnya ingin mengatur tentang privasi dan hak penggunaan data yang didapat dari pemanfaatan kecerdasan buatan. Peraturan itu kabarnya memuat moratorium penggunaan teknologi pengenalan wajah di area publik hingga lima tahun ke depan.

Namun, banyak perusahaan dan instansi pemerintah yang mengadopsi teknologi tersebut. Karena itu, regulator masih mengkaji kemungkinan mengekang potensi penyalahgunaan, tetapi tidak membatasi pengembangan AI.

Namun, President Microsoft Brad Smith menilai, teknologi pengenalan wajah bisa dimanfaatkan untuk menemukan anak hilang. "Saya benar-benar enggan mengatakan 'mari kita hentikan orang menggunakan teknologi', ketika itu dapat membantu mereka melakukannya," katanya.

Menurut Smith, pemerintah perlu mengidentifikasi persoalan terkait AI terlebih dahulu. Baru kemudian membuat peraturan untuk memastikan teknologi AI, termasuk pengenalan wajah tidak disalahgunakan.

"Hanya ada satu cara di akhir hari untuk membuat teknologi lebih baik dan itu adalah menggunakannya," ujar Smith. 

(Baca: Ahli IT Prediksi Penipuan Lewat Aplikasi & Malware AI Marak pada 2020)

Mengutip dari Business Insider, Facebook sebenarnya sudah mengembangkan teknologi pengenalan wajah pada 2015. Dengan mengarahkan kamera ponsel ke orang yang dituju, pegawai perusahaan bisa mengindentifikasi profilnya.

Perusahaan asal Amerika Serikat (AS) itu mengakui telah mengembangkan aplikasi pengenalan wajah. Tetapi, mereka membantah aplikasi itu dapat mengidentifikasi setiap pengguna jejaring sosial.

"Sebagai cara untuk belajar tentang teknologi baru, tim kami secara teratur membangun aplikasi untuk digunakan secara internal," kata Juru Bicara Facebook dalam sebuah pernyataan kepada CNET, beberapa waktu lalu (23/11/2019).

Mereka juga menegaskan bahwa aplikasi itu khusus untuk karyawan Facebook. “Hanya bisa mengenali karyawan dan teman-teman mereka yang telah mengaktifkan pengenalan wajah,” kata dia.

(Baca: 10 Tren Teknologi 2020, Kecerdasan Buatan dan 5G Berkembang Pesat)

Reporter: Cindy Mutia Annur

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan