Benny Tjokro Diduga Pakai Nama Anak Buah dalam Investasi Jiwasraya

Penulis: Tri Kurnia Yunianto

Editor: Yuliawati

22/1/2020, 04.12 WIB

Bennt Tjokro diduga gunakan nama orang lain untuk menyamarkan proses transaksi saham Jiwasraya.

jiwasraya, kejaksaan agung, benny tjokrosaputo
hanson.co.id
Benny Tjokrosaputro menjadi tersangka dalam kasus dugaan korupsi Jiwasraya.

Kejaksaan Agung menduga tersangka kasus dugaan korupsi  Benny Tjokrosaputro  mencatut nama-nama karyawannya dalam proses investasi saham dari PT Asuransi Jiwasraya (Persero). Kepala Pusat Penerangan dan Hukum (Kapuspenkum) Kejaksaan Agung RI, Hari Setiyono, menyebut langkah ini digunakan Komisaris PT Hanson International Tbk tersebut untuk menyamarkan transaksi.

Benny Tjokro diduga menggunakan nama karyawan Hanson yakni Jennifer Handayani dan Meitawati Widiyana Ningsih untuk menerima investasi saham Jiwasraya dengan nilai masih dirahasiakan. "Dipakai seperti apa itu sudah materi penyidikan nanti akan kami sampaikan lebih lanjut," kata Hari saat ditemui di Gedung Bundar Kejaksaan Agung, Selasa (21/1).

Selain itu kejaksaan juga menemukan pola yang sama dalam pengelolaan investasi pribadi Benny. Benny diduga mencatut tiga nama yakni Erda Darmawansanti, Djulia, dan Leonard Lonto untuk mengelola apartemen pribadinya di South Hill, kawasan Kuningan, Jakarta Selatan.

(Baca: PPATK Mulai Usut Aliran Dana Mencurigakan di Jiwasraya dan Asabri)

Hari menjelaskan, tersangka kasus dugaan korupsi Jiwasraya lainnya menggunakan pola yang sama dengan Benny. Namun, ia tidak menyebutkan tersangka lain yang juga mencatut nama. Mereka yang namanya digunakan untuk proses transaksi saham dari Jiwasraya yakni Dirut PT Dhana Wibawa Artha Sugianto Budiono, Direktur PT Inti Agri Resources Susan Hidayat dan Suhartanto.

Sejak pekan lalu, kejaksaan memeriksa para anak buah Benny untuk mencari bukti atas peranan Benny dalam kasus dugaan korupsi Jiwasraya. Anak buah Benny Tjokro yang telah menjalani pemeriksaan yakni sekretaris pribadi, Jani Irenawati; Direktur Independen Hanson, Adnan Tabrani; dan Sekretaris Perusahaan Hanson, Jumiah.

Penggalian informasi dari orang-orang yang bekerja dengan Bentjok tersebut untuk memetakan peran Benny dalam skandal Jiwasraya. "Pengetahuan para saksi itu yang diharapkan dapat memberikan keterangan untuk mengungkap tindak pidana yang disangkakan," kata Hari.

(Baca: Tersangka Jiwasraya Heru Hidayat Belum Berencana Ajukan Praperadilan)

Kejaksaan Agung menahan lima orang termasuk Benny Tjokrosaputro alias Bentjok dalam kasus dugaan korupsi pengelolaan investasi Jiwasraya. Bentjok merupakan pemegang saham sekaligus petinggi di dua perusahaan terbuka, yakni Hanson International (MYRX) yang merupakan induk dari puluhan perusahaan, dan Sinergi Megah Internusa (NUSA).

Saat ini, saham Hanson nyangkut di harga terendah Rp 50 per lembar. Jiwasraya disebut-sebut terdampak oleh kejatuhan saham Hanson. Katadata.co.id sempat menanyakan Bentjok soal dugaan kongkalikong jatuhnya saham Hanson.

(Baca: Hanson Gagal Bayar, Kewajiban Jangka Pendek Tembus Rp 3,6 Triliun)

Namun, Bentjok membantah hal tersebut. “Enggak ada tuh, saham Hanson jatuh karena viral,” ujarnya, pekan lalu. Berita viral yang dimaksud terkait penghimpunan dana secara ilegal.

Kuasa Hukum Bentjok Muchtar Arifin pun membantah adanya permainan terkait kejatuhan saham Hanson. Menurut dia, jika Jiwasraya mengalami kerugian investasi di saham tersebut maka itu merupakan tanggung jawab manajemennya.

Dalam audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) tahun 2016 disebutkan investasi Jiwasraya dalam bentuk Medium Term Notes atau MTN senilai Rp 680 miliar di Hanson International Tbk berisiko gagal bayar. Namun, MTN tersebut telah dibeli kembali Hanson. “Benny pernah melakukan pinjaman MTN dan sudah selesai tepat waktu pada 2016 atau setahun kemudian,” kata Muchtar.

(Baca: Tersandung Jiwasraya, Ini Jejak Benny Tjokro di Puluhan Perusahaan)

Pengusutan kasus ini bermula dari kegagalan Jiwasraya membayar klaim polis JS Saving Plan pada Oktober 2018 sebesar Rp 802 miliar. Jumlah gagal bayar polis ini terus membengkak. Berdasarkan catatan direksi baru, Jiwasraya tak dapat membayar klaim polis yang jatuh tempo pada periode Oktober-November 2019 sebesar Rp 12,4 triliun. 

Selain salah membentuk harga produk yang memberikan hasil investasi pasti di atas harga pasar, Kejaksaan Agung menemukan BUMN asuransi ini memilih investasi dengan risiko tinggi demi mencapai keuntungan besar. 

Kejaksaan Agung menyebutkan kerugian negara akibat dugaan korupsi dalam pengelolaan dana investasi Jiwasraya sekitar Rp 13,7 triliun pada Agustus 2019. Sementara itu Badan Pemeriksa Keuangan mengungkapkan Asuransi Jiwasraya melakukan rekayasa keuangan dalam menutupi kerugian perusahaan sejak 2006.

(Baca: BPK Ungkap Jiwasraya Lakukan Rekayasa Keuangan untuk Tutupi Kerugian )

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan