Belum Ada Izin Impor, Perusahaan Gula Rafinasi Berhenti Beroperasi

Penulis: Rizky Alika

Editor: Desy Setyowati

27/1/2020, 07.53 WIB

Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia khawatir belum adanya izin impor gula ini berdampak terhadap industri makanan dan minuman.

Belum Ada Izin Impor, Perusahaan Gula Rafinasi Berhenti Beroperasi
ANTARA FOTO/Dewi Fajriani
Ilustrasi, Satuan Tugas Ketahanan Pangan Sulawesi Selatan menunjukkan kemasan gula rafinasi ilegal milik UD Benteng Baru, Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (22/5/2019).

Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia (AGRI) mencatat, beberapa perusahaan berhenti beroperasi karena kehabisan bahan baku untuk memproduksi Gula Kristal Rafinasi (GKR). Penyebabnya, Kementerian Perdagangan belum menerbitkan Persetujuan Impor gula kristal mentah (raw sugar).

Ketua Agri Bernardi Dharmawan mengatakan, akan ada sembilan pabrik yang berhenti beroperasi pada akhir bulan ini. “Sisanya (berhenti beroperasi) di awal Februari," kata diakepada Katadata.co.id, akhir pekan lalu (24/1).

Ia mengatakan, pabrik AGRI mendapat rekomendasi impor 1,6 juta ton gula kristal mentah untuk semester I 2020 dari Kementerian Perindustrian. Sepanjang 2020, kuota impor raw sugar untuk industri mencapai 3,2 juta ton.

(Baca: Persediaan Menipis, Stok Gula Industri Hanya Cukup hingga Februari)

Bernardi khawatir, keterlambatan impor gula kristal mentah menghambat pasokan GKR ke industri makanan dan minuman. Akibatnya, produksi industri kuliner akan ikut terganggu.

"Saat ini kebutuhan GKR industri makanan dan minuman meningkat untuk kebutuhan Ramadan dan Idul Fitri," ujar dia. Selama bulan puasa, kebutuhan GKR diprediksi meningkat 10-20% dibanding rata-rata per bulan 266 ribu ton.

Sebagaimana diketahui, AGRI memiliki 11 perusahaan anggota yang mengolah gula kristal mentah menjadi GKR. Nantinya, GKR tersebut didistribusikan kepada industri makanan dan minuman.

(Baca: Kemendag Terbitkan Izin Impor Gula Mentah untuk Rafinasi 1,27 Juta Ton)

Anggota AGRI meliputi PT Angels Products, PT Jawamanis Rafinasi, PT Sentra Usahatama Jaya, PT Permata Dunia Sukses Utama, dan PT Dharmapala Usaha Jaya. Kemudian ada pula PT Sugar Labinta, PT Duta Sugar International, PT Makassar Tene, PT Berkah Manis Makmur, PT Andalan Furnindo, dan PT Medan Sugar Industry.

Pada Semester I 2019, Kementerian Perdagangan menerbitkan izin impor 1,4 juta ton gula mentah untuk industri rafinasi. Sepanjang tahun lalu, total kuota impor gula mentah sebesar 2,8 juta ton.

Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, realisasi impor gula mentah untuk industri rafinasi mencapai 3,37 juta ton dari kuota 3,6 juta ton pada 2018. Alhasil, realisasi impor AGRI mencapai 93%.

(Baca: Cegah Rembesan Gula Rafinasi, Industri Usul Penggunaan Sistem Barcode)

Reporter: Rizky Alika

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan