Corona Hantam Industri Tekstil Kamboja & Hambat Pasokan Bahan Baku

Penulis: Ekarina

10/2/2020, 19.29 WIB

Industri garmen merupakan salah satu sektor terbesar di Kamboja yang berkontrubusi sekitar US$ 7 miliar terhadap perekonomian.

Corona Hantam Industri Tekstil Kamboja & Hambat Pasokan Bahan Baku.
ANTARA FOTO/Maulana Surya
Ilustrasi industri tekstil di Jawa Tengah. virus corona mulai menghantam kinerja industri tekstil Kamboja. Akibatnya, empat pabrik terancam tutup karena kesulitan bahan baku.

Wabah virus corona mulai menghantam kinerja industri tekstil Kamboja. Tercatat,  empat pabrik tekstil negara itu berhenti beroperasi karena kekurangan pasokan bahan baku dari Tiongkok akibat mewabahnya virus. 

Dikutip dari Reuters, juru bicara kementerian tenaga kerja Kamboja, Heng Sour mengatakan, ada keterlambatan pengiriman pakaian, benang, kancing, dan sol sepatu untuk industri negara tersebut.

Padahal, industri garmen merupakan salah satu sektor terbesar di Kamboja yang berkontrubusi sekitar US$ 7 miliar terhadap perekonomian negara per tahun.

(Baca: Bantah Harvard, Kemenkes Pamer Kemampuan Deteksi Virus Corona)

Jumlah kasus meninggal dunia akibat virus corona bertambah 97 jiwa sehingga pada Senin (10/2) pagi, sehingga total korban menjadi 908 orang. Dikutip dari AFP, kasus kematian terbanyak pada 24 jam terakhir terjadi di Provinsi Hubei, China, yaitu 91 meninggal dunia.

Sementara satu kasus sebelumnya dikonfirmasi terjadi di Kamboja. Namun, pasien suspek yang diketahui sebagai seorang warga negara Tiongkok di kota pantai Sihanoukville, telah pulih dan meninggalkan rumah sakit hari ini. 

Fasilitas Perdagangan Uni Eropa

Selain karena masalah kelangkaan bahan baku dari Tiongkok, industri tekstil Kamboja semakin  tertekan setelah Uni Eropa pada Rabu (11/2) akan memutuskan apakah akan menangguhkan atau tetap melanjutkan preferensi perdagangan khusus Kamboja terkait masalah hak asasi manusia.

Kamboja mendapat manfaat dari program perdagangan Uni Eropa yang memungkinkan negara berkembang itu untuk mengekspor sebagian besar barangnya ke Uni Eropa tanpa pajak.

"Jika sampai pekan kedua bulan Maret, pabrik-pabrik masih belum tahu kapan mereka akan bisa mendapatkan bahan baku dari Tiongkok, mereka dapat berhenti beroperasi sementara selama dua hingga tiga minggu," kata sebuah sumber kepada Reuters.

(Baca: Tak Terpengaruh Corona, RI Impor 103 Ribu Ton Bawang Putih Tiongkok)

Sumber itu mengatakan, bahwa empat pabrik yang mempekerjakan sekitar 3.000 pekerja secara total, telah menyatakan keprihatinan mereka kepada pemerintah. Namun sumber itu menolak menyebutkan nama pabrik  maupun merek  barang yang mereka pasok.

Merek pakaian dan sepatu global, termasuk Adidas, PUMA dan Levi Strauss, telah berkirim surat kepada pemimpin lama Kamboja, Hun Sen, mengatakan negara itu akan menjatuhkan sanksi kepada industri pakaian yang menyalahi aturan tenaga kerja dan hak asasi manusia. 

 

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan