Pesaing GoFood dan GrabFood, Eatsy Berhenti Beroperasi Imbas Corona

Penulis: Cindy Mutia Annur

Editor: Desy Setyowati

27/3/2020, 09.12 WIB

Pesaing Gojek dan Grab asal Singapura, Eatsy berencana menghentikan operasional di Indonesia karena pandemi corona.

Pesaing GoFood dan GrabFood, Eatsy Berhenti Beroperasi Imbas Corona
Eatsy
Ilustrasi aplikasi Eatsy.

Pantau Data dan Informasi terbaru Covid-19 di Indonesia pada microsite Katadata ini.

Startup penyedia layanan pemesanan makanan asal Singapura, Eatsy berencana menghentikan operasionalnya di Indonesia mulai bulan depan. Pesaing Gojek dan Grab  itu berhenti karena pandemi corona di Tanah Air semakin meluas.

Perusahaan yang didukung oleh East Ventures itu menilai, pandemi corona berpengaruh terhadap semua lini bisnis. "Dengan berat hati, kami memutuskan untuk menghentikan operasi Eatsy Indonesia," ujar Eatsy dikutip dari Tech In Asia, Kamis (27/3).

Padahal, Eatsy resmi merambah pasar Indonesia pada November lalu. Di Indonesia, perusahaan telah bekerja sama dengan startup teknologi finansial (fintech) pembayaran OVO dan  penyedia sistem kasir (point of sales/POS) Moka.

(Baca: Saingi GrabFood dan GoFood, Startup Singapura Eatsy Rambah Indonesia)

Eatsy didirikan oleh Shaun Heng pada 2016. Ia punya misi memberdayakan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di industri makanan dan minuman, serta membantu mereka meningkatkan daya saing.

Mereka menawarkan platform yang memungkinkan pengguna memesan makanan dari restoran tanpa harus mengantre. Dengan begitu, pelaku usaha bisa menjangkau lebih banyak konsumen.

Berdasarkan Crunchbase, Eatsy telah mengumpulkan pendanaan US$ 1 juta atau sekitar Rp 16,1 miliar dari East Ventures dan Quest Ventures.

(Baca: Gojek dan Grab Sebut Order GoFood dan GrabFood Naik meski Ada Corona)

Di Indonesia, Eatsy bersaing dengan Gojek dan Grab yang memiliki layanan serupa, yakni  GoFood dan GrabFood. Shaun sempat mengatakan, layanannya menguntungkan pengguna dan mitra penjual.

Alasannya, pemilik restoran terutama yang memiliki tempat sempit, dapat mengurangi antrean dan mengatur alur pemesanan dengan baik. “Ini adalah keadaan yang saling menguntungkan," kata Shaun dalam siaran pers, November lalu (19/11).

Di Singapura, Eatsy memiliki lebih dari 400 mitra penjual. Perusahaan mengklaim telah meningkatkan penjualan mitranya hingga 1,5 kali lipat. Proses e-order juga diklaim mengurangi risiko kesalahan manusia (human error) dan mencegah komplain atau return.

(Baca: Pendapatan Pengemudi Anjlok, Petinggi Gojek Sumbang 25% Gaji Setahun)

Reporter: Cindy Mutia Annur

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan