Imbas PSBB, Produksi Manufaktur Turun Tajam Sepanjang Sejarah
Pandemi corona memberi pukulan berat terhadap sektor industri manufaktur dalam negeri. Banyaknya pabrik yang berhenti beroperasi selama pandemi dan masa pembatasan sosial berskala besar (PSBB) menyebabkan produksi manufaktur menurun tajam pada bulan lalu.
Survei IHS Market mencatat, Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur Indonesia periode April anjlok tajam ke level 27,5, lebih rendah dibanding Maret yang berada di posisi 45,3.
Anjloknya indeks manufaktur Indonesia sepanjang April lalu tercatat sebagai yang terendah sepanjang sejarah atau dalam sembilan tahun periode survei April 2011. Tak hanya itu, kinerja manufaktur Indonesia tercatat terendah di ASEAN, di bawah Myanmar dengan skor indeks sebesar 29,0 dan Singapura sebesar 29,3.
(Baca: Sri Mulyani Waspadai Aktivitas Manufaktur RI Turun Terdalam di Asia)
Kepala Ekonom IHS Market, Bernard Aw menyatakan aktivitas manufaktur Indonesia menurun tajam disebabkan maraknya pabrik yang tutup akibat pandemi Covid-19 serta menurunnya permintaan barang.
Hal ini mengakibatkan utilisasi produksi menurun signifikan yang diikuti oleh berkurangnya jumlah tenaga kerja. Di sisi lain, banyak pabrikan mengurangi aktivitas pembelian dan inventaris produksi.
Dari segi biaya produksi, produsen menanggung kenaikan kenaikan biaya cukup tinggi sebagai imbas melemahnya rupiah dan minimnya pasokan bahan baku.
Survei juga mencatat, pembatasan sosial berskala besar (PSBB) diberlakukan di berbagai wilayah di Indonesia sangat membebani produsen karena banyak pabrik harus tutup sementara.
Indeks output atau hasil produksi pun anjlok ke posisi terendah, menunjukkan penurunan bulanan terbesar dalam sembilan tahun periode survei. Penurunan hasil produksi ini juga sejalan dengan total permintaan baru, yang mana sebagian disebabkan oleh jatuhnya ekspor.
"Penutupan pabrik dan aturan pembatasan sosial menyebabkan anjloknya produksi dan permintaan hingga berada pada tingkat terparah. Akibatnya, banyak terjadi PHK perusahaan secara luas," kata Bernard Aw dalam risetnya, Selasa (5/5).
Wabah corona telah berdampak signifikan terhadap sektor industri manufaktur di dalam negeri, salah satunya industri sepatu. Banyak dari pelaku industri padat karya ini disebut gulung tikar lantaran penjualannya turun tajam.
(Baca: Babak Belur Industri Otomotif Dihantam Pandemi Corona)
Mayoritas pengusaha sektor ini bahkan diperkirakan hanya mampu mempertahankan bisnisnya tanpa melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) selama tiga bulan.
Direktur Eksekutif Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) mengatakan, selama wabah Covid-19 berlangsung, omzet bisnis pengusaha alas kaki kini tak menentu.
Berdasarkan survei yang dilakukan asosiasi terhadap para anggota menunjukkan, banyak dari kapasitas industri saat ini hanya terpakai 21% hingga 45%. Adapun pabrik yang masih berproduksi dengan kapasitas sekitar 72% adalah industri sepatu besar dengan jumlah tenaga kerja di atas 5.000 orang.
"Industri yang sampai saat ini masih beroperasi penuh adalah industri besar berorientasi ekspor," kata Firman dalam keteragangannya yang diterima katadata.co.id, Kamis (23/4).
Namun, beroperasinya pabrik ini pun dikarenakan masih menyelesaikan sisa pesanan sebelumnya. Sedangkan permintaan baru jumlahnya sangat sedikit karena lesunya ekspor maupun pasar domestik.
"Pada Juni bahkan belum ada kepastian apakah masih akan ada order ekspor atau tidak," katanya.
Lesunya permintaan alas kaki di pasar domestik, menurutya disebabkan oleh pembatasan sosial. Sehingga tak jarang para pemilik brand menunda atau bahkan membatalkan pesanan.
Sedangkan lesunya pasar ekspor, disebabkan maraknya kebijakan lockdown atau karantina wilayah yang dilakukan banyak negara. Sehingga ekspor menjadi sulit dilakukan.
Padahal, industri manufaktur atau pengolahan sebelumnya merupakan salah satu kontributor terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi. Namun, pertumbuhan industri pengolahan menurun dari 4,27% pada 2018 menjadi 3,8% pada 2019 seperti yang digambarkan dalam databoks berikut.
