Inalum dan Antam Bangun Smelter Bauksit di Kalimantan Barat

Image title
4 April 2019, 20:10
Antam
Arief Kamaludin|KATADATA

PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau Inalum bekerja sama dengan PT Aneka Tambang Tbk atau Antam dalam pembangunan pabrik pengolahan dan pemurnian (smelter) grade alumina refinery di Desa Bukit Batu, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat.

Proyek tersebut dikerjakan melalui perusahaan patungan Antam dan Inalum yaitu PT Borneo Alumina Indonesia (BAI). Pembangunan smelter-nya bertujuan untuk mengurangi ekspor mineral mentah dan mengurangi ketergantungan impor untuk sumber bahan baku produksi aluminium.

Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Oesman Sapta Oedang menjelaskan pengolahan bauksit menjadi aluminia akan mendorong lahirnya potensi investasi di masa mendatang. Selain itu, hasil produksinya bisa mengurangi defisit transaksi berjalan dan memperkuat nilai tukar rupiah

"Misalnya dalam bentuk pengembangan industri-industri terkait alumina-aluminium based dan diversifikasinya," ujar dia, dalam keterangan pers, Kamis (4/4).

(Baca: Antam Siapkan Studi Kelayakan Pembangunan Smelter Nikel di Papua)

Saat menghadiri pencanangan pembangunan smelter, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno juga mengatakan proyek tersebut merupakan suatu kemajuan bagi industri pertambangan di dalam negeri. Sebelumnya Indonesia mengirim bauksit ke negara lain untuk diolah dan dikirim lagi ke Indonesia.

"Kami bertekad untuk memaksimalkan nilai tambah bauksit dan juga bahan-bahan tambang lainnya di dalam negeri," ujar Rini.

(Baca: Progres Pembangunan Smelter Freeport di Gresik Mendekati Target)

Pembangunan Pabrik Alumina yang dikelola oleh PT BAI akan dibangun di atas lahan seluas 288 hektare, di tiga Desa di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat. Smelter grade alumina ini akan memiliki kapasitas awal sebesar satu juta ton per tahun.

Untuk kebutuhan listriknya, smelter tersebut akan didukung dengan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) sebesar 3 kali 25 megawatt (MW). Investasinya diperkirakan mencapai USD 850 juta (sekitar Rp 12 triliun). Target mulai produksi pada awal 2022.

(Baca: Inalum Nilai Cadangan Emas Freeport Bakal Lampaui Tahun 2051)

Harapannya, dengan beroperasinya smelter maka roda perekonomian di Kalimantan Barat, khususnya di Kabupaten Mempawah, akan naik, begitu pula dengan potensi pendapatan daerah. Selain itu, lapangan pekerjaan, baik langsung maupun tidak langsung, akan bertambah. Program pemberdayaan masyarakat di sekitar proyek pun bergairah.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Fariha Sulmaihati
Editor: Sorta Tobing

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...