Penyesuaian Tarif Listrik Nonsubsidi Berpotensi Memicu Inflasi jadi 5%

Image title
11 Desember 2021, 08:32
tarif listrik, inflasi, listrik
ANTARA FOTO/Reno Esnir/rwa.
Warga memeriksa pulsa token listrik di salah satu rumah susun kawasan Bendungan Hilir, Jakarta, Minggu (25/7/2021).

Rencana Kementerian ESDM yang akan melakukan penyesuaian tarif listrik (tariff adjustment) untuk pelanggan non subsidi tahun depan dinilai akan memicu inflasi. Sebab perekonomian belum pulih sepenuhnya dari dampak pandemi Covid-19 .

Direktur Center of Economic and Law Studies Bhima Yudhistira menilai dampak tarif listrik yang naik akan memicu inflasi hingga 5%. Hal ini akan semakin parah mengingat tingkat inflasi di sektor pangan saat ini juga telah mengancam.

Advertisement

"Kalau ditambah inflasi dari sisi administered price atau harga yang diatur pemerintah maka tekanan pendapatan dunia usaha dan masyarakat makin membebani," kata Bhima kepada Katadata.co.id, Jumat (10/12).

Sementara, konsumsi rumah tangga untuk saat ini pemulihannya juga tidak merata. Setidaknya, terdapat kelompok rentan yang kesulitan mencari pekerjaan dengan upah layak dan beberapa Industri kapasitasnya juga belum penuh. "Inflasi diperkirakan bisa 4-5% pada 2022 jika pemerintah memaksa menyesuaikan tarif listrik," katanya.

Meskipun penyesuaian tarif nominalnya kecil, namun menurut Bhima efeknya akan direspon secara cepat ke harga barang. Ini membuat psikologis konsumen yang cenderung akan berhemat.

Sementara, Ketua Asosiasi Kaca Lembaran dan Pengaman (AKLP) Yustinus Gunawan berpendapat penyesuaian tarif dasar listrik akan menurunkan daya saing produk industri manufaktur. Padahal industri manufaktur menjadi tumpuan pemulihan ekonomi nasional untuk saat ini.

"Kalau tarif akan naik, silahkan dikaji setelah ekonomi Indonesia sungguh-sungguh pulih, yaitu tercapainya defisit maksimal minus 3% pada tahun 2023, sesuai UU," ujarnya. Simak databoks berikut:

Setelah kajian atas realisasi angka tersebut dengan didukung indikator dasar lainnya yang benar-benar menguat. Maka kenaikan tarif listrik kata dia tidak menjadi soal. "Bila tahun 2022 naik, ini mirip dengan orang sakit berat baru mulai sembuh, belum pulih, tetapi dibiarkan bertarung bebas," katanya.

Halaman:
Reporter: Verda Nano Setiawan
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...
Advertisement