Laba Perusahaan Energi Dunia Meroket Dipicu Lonjakan Harga Migas

Happy Fajrian
14 Februari 2022, 17:34
migas, harga minyak, laba perusahaan migas, shell, chevron, bp
AKR

Laba perusahaan energi dunia, yakni BP (Inggris), TotalEnergies (Prancis), Shell (Belanda), serta Chevron dan Exxon Mobil (Amerika Serikat) pada 2021 melesat didorong tingginya harga minyak dan gas berkat pulihnya konsumsi energi seiring pembukaan kembali perekonomian dari kebijakan pembatasan Covid-19.

BP misalnya, berhasil membukukan laba US$ 12,85 miliar sepanjang 2021 yang merupakan rekor tertinggi dalam 8 tahun terakhir. Perusahaan asal Inggris ini menyebut bahwa tingginya harga minyak dan gas.

Kemudian TotalEnergies meraih laba US$ 18,1 miliar, membalikkan kinerja tahun 2020 yang merugi hingga US$ 7,2 miliar. Perusahaan energi Prancis ini membukukan pendapatan sebesar US$ 6,8 miliar pada kuartal IV 2021, di atas prediksi analis sebesar US$ 6,1 miliar.

CEO TotalEnergies Patrick Pouyanne mengatakan bahwa model bisnis multi energi yang mereka terapkan berhasil memanfaatkan penuh lingkungan yang mendukung dari kenaikan harga energi, terutama pada LNG (liquefied natural gas) dan listrik.

Sementara itu Shell tahun lalu membukukan laba US$ 19,3 miliar dari rugi US$ 7,2 miliar pada 2020, Chevron US$ 15,6 miliar dari rugi US$ 5,5 miliar, dan ExxonMobil US$ 23 miliar dari rugi US$ 22 miliar pada tahun sebelumnya.

Keuntungan lima perusahaan energi besar dunia ini didorong oleh lonjakan harga minyak dan gas setelah kejatuhannya pada awal pandemi Covid-19 yang memukul kinerja keuangan hingga merugi.

Pada 2020 harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) sempat menyentuh US$ -37,63 per barel yang artinya perusahaan migas rela membayar untuk mengurangi persediaannya yang menumpuk karena turunnya konsumsi energi global.

Namun pada 2021 harga minyak pulih hingga menyentuh US$ 85 per barel dan terus merangkak naik hingga mendekati US$ 100 per barel hari ini. Simak databoks berikut:

Sementara harga gas acuan Eropa, Dutch TTF Gas Futures, melonjak dari sekitar € 15 per megawatt jam (MWh) ke rekor tertingginya pada Desember 2021 di level € 166,82 per MWh, atau naik 1.012% yang juga melonjakkan tagihan listrik di berbagai negara Eropa.

Rejeki nomplok yang perusahaan-perusahaan migas ini dapatkan dari kenaikan harga energi, kemudian akan digunakan untuk mengenjot bisnis energi baru terbarukan (EBT) dan bisnis rendah karbon lainnya untuk menurunkan tingkat emisi karbon dan gas rumah kaca menjadi net zero.

Namun CEO BP Bernard Looney memperingatkan konsumen bahwa dengan pergeseran fokus dari bisnis energi fosil ke bisnis rendah karbon, harga energi, terutama minyak dan gas, akan lebih volatil. “Kami perkirakan harga akan lebih volatil dalam bulan dan tahun mendatang,” ujarnya dikutip Reuters, Senin (14/2).

Looney membeberkan bahwa dalam upaya menurunkan tingkat emisi karbon, BP akan meningkatkan kapasitas EBT-nya hingga 20 kali lipat pada 2030 dan mengurangi produksi minyaknya hingga 40% atau lebih dari 1 juta barel per hari.

Untuk mengembangkan EBT, BP akan menggelontorkan belanja modal hingga US$ 14-16 miliar per tahun hingga 2025. Pada 2025 BP akan mengalokasikan 40% investasinya untuk mengembangkan EBT termasuk stasiun pengisian baterai mobil listrik, dan menjadi 50% pada 2030.

Dari bisnis energi terbarukannya ini BP diperkirakan dapat menghasilkan pendapatan sebesar US$ 9-10 miliar hingga 2030, meskipun bisnis minyak masih akan menyumbang pendapatan cukup besar, yakni hingga US$ 33 miliar per tahun hingga 2025. “Kami tidak berinvestasi untuk meningkatkan produksi minyak dan gas,” kata Looney.

Sementara itu TotalEnergies telah menetapkan target untuk bebas karbon atau net zero emission pada 2050. Namun Climate Action 100+ menilai target bebas karbon perusahaan Prancis ini hanya sebagian yang selaras dengan Perjanjian Paris untuk mencegah kenaikan temperatur global lebih dari 1,5 derajat Celsius pada 2050.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...