Pertamina: Produksi Minyak dari Lapangan Domestik Tahun ini Stagnan
Pertamina melaporkan bahwa produksi minyak dan gas (migas) dari lapangan migas yang mereka kelola di dalam maupun luar negeri tahun mengalami peningkatan 8% dibandingkan tahun sebelumnya.
Meski begitu pertumbuhan tersebut terutama bersumber dari lapangan migas Pertamina di luar negeri lantaran produksi domestik tahun ini diperkirakan tidak tumbuh atau stagnan di level 417 ribu barel per hari (bph).
"Secara garis besar produksi migas di hulu tumbuh rata-rata 8% dari pengeboran yang masif dan agresif, baik new exploration maupun maintenance seperti work over, well services, dan well intervention," kata Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VII DPR, dikutip Rabu (22/11).
Nicke juga menyampaikan bahwa saat ini Pertamina mengelola 30% dari total lapangan migas yang ada di Indonesia, namun berkontribusi hingga 68% terhadap total produksi nasional.
Tidak tumbuhnya produksi minyak domestik Pertamina disampaikan oleh Direktur Utama Upstream Pertamina Hulu Energy Wiko Migantoro di rapat yang sama.
Dia mengatakan produksi migas Pertamina terus bertumbuh dari tahun 2021, 2022 dan outlook 2023, baik dari lapangan migas domestik maupun internasional. Namun produksi domestik tahun ini tidak mengalami peningkatan dari aset yang dikelola Pertamina sendiri dan aset di mana Pertamina tidak bertindak sebagai operator.
"Di domestik dari 2022 ke 2023, kami prediksikan akhir tahun growth-nya nol, 417 ribu bph dikarenakan ada sedikit kendala integrity di Blok OSES maupun penurunan produksi di Blok Cepu yang tidak dioperasikan Pertamina," ujarnya.
Berbanding terbalik, Wiko menyebut adanya kenaikan yang cukup signifikan dalam produksi minyak Pertamina pada lapangan internasionalnya.
Dia memerinci, pada 2022 lapangan internasional hanya mampu memproduksi 97 ribu bph namun pada outlook 2023 ini produksi diperkirakan mencapai 151 ribu bph. “Ini dominan datang dari Timur Tengah, tambahan kami di Irak dan kenaikan produksi di Aljazair,” ujarnya.
Wiko menyampaikan dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) 2024 Pertamina mematok jumlah produksi minyak sebanyak 593 ribu bph. Angka ini berasal dari 423 ribu bph domestik, sementara 170 ribu bph dari internasional.
Pemerintah Ancam Alihkan Aset Hulu Migas Pertamina ke Swasta atau Asing
Sebelumnya pemerintah telah mengutarakan rencana untuk melepas sebagian aset yang dikelola Pertamina kepada perusahaan migas swasta, baik domestik maupun internasional, seiring minimnya kinerja produksi. Apalagi Pertamina berkontribusi hingga 68% total produksi nasional.
Menteri Investasi Bahlil Lahadalia mengatakan kajian tersebut telah dibahas secara serius di forum rapat terbatas bersama Presiden Joko Widodo (Jokowi). Menurut Bahlil, saat ini terdapat 3.000 sumur migas yang berada di bawah naungan Pertamina.
Bahlil bercerita, dalam ratas tersebut, Jokowi memberi arahan agar Pertamina menyerahkan sumur yang tidak dimanfaatkan kepada perusahaan migas swasta melalui mekanisme terbuka atau tender.
“Jangan merasa bahwa ini negara kita, tapi lihat juga kemampuan kita. Jangan sampai nafsu kuda tapi tenaga ayam. Ini gak sampai-sampai tujuan negara ini,” kata Bahlil beberapa waktu lalu, Rabu (20/9).
Lebih lanjut, kata Bahlil, Jokowi mengarahkan agar lelang-lelang blok migas lebih menyasar pada perusahaan swasta nasional, dengan opsi kerja sama dengan perusahaan migas internasional untuk mengunci kepastian modal.
