Di Bawah Danantara, Pertamina Konsolidasi Bisnis Maskapai, RS, Hotel, Asuransi
PT Pertamina (Persero) sedang dalam proses konsolidasi terhadap empat sektor bisnis Perusahaan yang berada di bawah naungan Danantara. Empat sektor tersebut mulaidari rumah sakit hingga asuransi.
Lebih rinci dia menyebut sektor pertama adalah rumah sakit, yakni Pertamina Bina Medika yang dikonsolidasikan ke IHC. Kedua, sektor perhotelan dimana Pertamina memiliki anak usaha bersama PT Patra Jasa. Entitas tersebut memiliki 9 unit bisnis hotel. Saat ini kajian konsolidasinya sedang dipimpin oleh Hotel Indonesia Natour (HIN).
“Ketiga adalah airline atau maskapai penerbangan dengan pelita air service atau PAS yang dimiliki oleh Pertamina. Saat ini sesuai dengan arahan Danantara dilakukan kajian yang dikoordinir oleh Garuda Indonesia untuk menentukan langkah terbaik untuk konsolidasi ini,” kata Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis, Agung Wicaksono dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi VI DPR RI, Rabu (19/11).
Terakhir yakni konsolidasi di sektor asuransi melalui kajian implementasi konsolidasi perusahaan-perusahaan asuransi BUMN. Hal ini dikoordinir oleh IFG sebagai Holding BUMN Asuransi.
“Secara bertahap, ini bukan hanya Pertamina tapi banyak sekali berbagai perusahaan asuransi di ekosistem BUMN yang akan dikonsolidasikan,” ujarnya.
Selain itu, Agung mencatat Pertamina telah menuntaskan proses likuidasi atas dua entitas perusahaan tahun ini. Hal ini dilakukan kepada perusahaan yang tidak lagi memiliki kontribusi strategis.
Dua perusahaan tersebut yakni TRB London, merupakan anak usaha Pertamina yang menjadi bagian dari asuransi. Proses likuidasi selesai dilakukan pada Februari 2025. Perusahaan kedua yakni Pertamina Energy Service Private Limitied yang berbasis di Singapura.
“Ini dulunya anak perusahaan dari petral yang sudah dituntaskan likuidasinya di Juli 2025. Hal ini sebagai bagian dari tahapan transformasi dan reformasi tata kelola yang berkelanjutan,” ucapnya.
Cegah Kanibalisme Pasar
Managing Director Non-Financial Holding Operasional Danantara Febriany Eddy mengatakan rencana merger kedua maskapai ini perlu dilakukan untuk memastikan tidak terjadinya kanibalisme. Menurut dia, Garuda dan Citilink pun tidak diperbolehkan saling mengambil pasar.
“Tadi kuncinya adalah dalam rencananya pasti akan dipastikan untuk tidak saling cannibal. Orang Garuda–Citilink aja kami tidak izinkan, apalagi nanti Pelita,” ujar Febri di Kantor Danantara, Jumat (14/11).
Menurutnya, langkah penggabungan usaha perlu dieksekusi dulu sebelum lanjut ke tahapan berikutnya. Bagian terpenting dari proses streamline adalah menghilangkan kompetisi internal dan potensi saling kanibal.
“Nah bagaimana segmentasinya, brandingnya itu tunggu lah, tunggu,” kata Febri.
Febriany juga menilai Pelita Air memiliki banyak praktik baik yang dapat diadopsi oleh entitas lain di maskapai. “Ada praktik baik di Citilink dan Garuda yang harus menjadi manfaat dari Pelita Air. Jadi disitu kami saling memperkuat diri,” ujar Febri.
