Di Bawah Danantara, Pertamina Konsolidasi Bisnis Maskapai, RS, Hotel, Asuransi

Mela Syaharani
19 November 2025, 14:33
Petugas berada di dekat pesawat maskapai Pelita Air dari Jakarta (CGK) yang terparkir di Bandara Sultan Iskandar Muda (BTJ), Aceh Besar, Aceh, Rabu (3/4/2024). PT Pelita Air Service (PAS) memanfaatkan momentum menjelang hari raya Idul Fitri 1445 H atau li
ANTARA FOTO/Irwansyah Putra/wpa.
Petugas berada di dekat pesawat maskapai Pelita Air dari Jakarta (CGK) yang terparkir di Bandara Sultan Iskandar Muda (BTJ), Aceh Besar, Aceh, Rabu (3/4/2024). PT Pelita Air Service (PAS) memanfaatkan momentum menjelang hari raya Idul Fitri 1445 H atau libur lebaran 2024 dengan membuka rute penerbangan baru Jakarta-Aceh.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

PT Pertamina (Persero) sedang dalam proses konsolidasi terhadap empat sektor bisnis Perusahaan yang berada di bawah naungan Danantara. Empat sektor tersebut mulaidari rumah sakit hingga asuransi.

Lebih rinci dia menyebut sektor pertama adalah rumah sakit, yakni Pertamina Bina Medika yang dikonsolidasikan ke IHC.  Kedua, sektor perhotelan dimana Pertamina memiliki anak usaha bersama PT Patra Jasa. Entitas tersebut memiliki 9 unit bisnis hotel. Saat ini kajian konsolidasinya sedang dipimpin oleh Hotel Indonesia Natour (HIN).

“Ketiga adalah airline atau maskapai penerbangan dengan pelita air service atau PAS yang dimiliki oleh Pertamina. Saat ini sesuai dengan arahan Danantara dilakukan kajian yang dikoordinir oleh Garuda Indonesia untuk menentukan langkah terbaik untuk konsolidasi ini,” kata Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis, Agung Wicaksono dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi VI DPR RI, Rabu (19/11).

Terakhir yakni konsolidasi di sektor asuransi melalui kajian implementasi konsolidasi perusahaan-perusahaan asuransi BUMN. Hal ini dikoordinir oleh IFG sebagai Holding BUMN Asuransi.

“Secara bertahap, ini bukan hanya Pertamina tapi banyak sekali berbagai perusahaan asuransi di ekosistem BUMN yang akan dikonsolidasikan,” ujarnya.

Selain itu, Agung mencatat Pertamina telah menuntaskan proses likuidasi atas dua entitas perusahaan tahun ini. Hal ini dilakukan kepada perusahaan yang tidak lagi memiliki kontribusi strategis.

Dua perusahaan tersebut yakni TRB London, merupakan anak usaha Pertamina yang menjadi bagian dari asuransi. Proses likuidasi selesai dilakukan pada Februari 2025. Perusahaan kedua yakni Pertamina Energy Service Private Limitied yang berbasis di Singapura.

“Ini dulunya anak perusahaan dari petral yang sudah dituntaskan likuidasinya di Juli 2025. Hal ini sebagai bagian dari tahapan transformasi dan reformasi tata kelola yang berkelanjutan,” ucapnya.

Cegah Kanibalisme Pasar

Managing Director Non-Financial Holding Operasional Danantara Febriany Eddy mengatakan rencana merger kedua maskapai ini perlu dilakukan untuk memastikan tidak terjadinya kanibalisme. Menurut dia, Garuda dan Citilink pun tidak diperbolehkan saling mengambil pasar.

“Tadi kuncinya adalah dalam rencananya pasti akan dipastikan untuk tidak saling cannibal. Orang Garuda–Citilink aja kami tidak izinkan, apalagi nanti Pelita,” ujar Febri di Kantor Danantara, Jumat (14/11). 

Menurutnya, langkah penggabungan usaha perlu dieksekusi dulu sebelum lanjut ke tahapan berikutnya. Bagian terpenting dari proses streamline adalah menghilangkan kompetisi internal dan potensi saling kanibal. 

“Nah bagaimana segmentasinya, brandingnya itu tunggu lah, tunggu,” kata Febri. 

Febriany juga menilai Pelita Air memiliki banyak praktik baik yang dapat diadopsi oleh entitas lain di maskapai. “Ada praktik baik di Citilink dan Garuda yang harus menjadi manfaat dari Pelita Air. Jadi disitu kami saling memperkuat diri,” ujar Febri. 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Mela Syaharani

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...