Prospek Diplomasi AS-Iran Diragukan, Harga Minyak Dekati US$ 90 per Barel
Harga minyak naik setelah muncul tanda-tanda upaya diplomasi Amerika Serikat (AS) dan Iran untuk mencapai kesepakatan terkait Selat Hormuz menemui jalan buntu. Kondisi ini menimbulkan keraguan terhadap keberlanjutan peningkatan arus pengiriman energi melalui selat yang menghubungkan Teluk Persia dengan pasar global.
Harga minyak Brent naik 2,1% menjadi US$ 89,70 per barel pada perdagangan Jumat (28/8) pagi. Sementara minyak West Texas Intermediate (WTI) naik 1,6% menjadi US$ 83,53 per barel.
Harga minyak telah naik lebih dari 45% sepanjang tahun ini. Hal ini terjadi setelah konflik selama enam bulan yang dilancarkan AS dan Israel pada akhir Februari menghambat pengiriman minyak dari kawasan Teluk Persia.
Meski demikian, perundingan antara Iran dan Oman, ditambah langkah-langkah ekonomi AS yang ternyata tidak sekeras perkiraan sebelumnya, telah membantu meredakan harga minyak pada pekan ini.
Harga minyak menguat setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan dirinya tidak tertarik untuk kembali pat ketentuan kesepakatan gencatan senjata dengan Iran di Juni. Hal tersebut memupus harapan terkait kesepakatan pembagian pendapatan antara Iran dan Oman soal Selat Hormuz.
Washington justru memilih untuk menekan perekonomian Republik Islam tersebut melalui sanksi dan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan AS tidak sedang bernegosiasi dengan Iran dan blokade akan tetap diberlakukan.
Negara-negara Teluk Persia telah berupaya melakukan diplomasi untuk membantu meredakan ketegangan tersebut. Perdana Menteri Qatar bertemu dengan negosiator utama Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, untuk membahas upaya penciptaan kondisi yang sesuai agar perundingan dengan AS bisa kembali dimulai.
Meski demikian, Teheran berulang kali menegaskan kesepakatan mengenai navigasi tidak berarti Selat Hormuz akan segera dibuka kembali.
Aktivitas Pengiriman Minyak dari Teluk Persia Meningkat
Sementara itu, sebagian minyak mentah tampaknya mulai kembali mengalir dari kawasan Teluk Persia. Berdasarkan perkiraan pedagang yang memantau aktivitas pengiriman kargo, sekitar 6 juta hingga 8 juta barel minyak per hari kini dikirim melalui Selat Hormuz. Peningkatan arus tersebut membantu menjaga harga minyak mentah global tetap terkendali.
Citra satelit menunjukkan Arab Saudi tampaknya meningkatkan aktivitas pemuatan minyak di dalam kawasan Teluk Persia. Hal tersebut menjadi tanda eksportir minyak mentah terbesar dunia itu sedang mengubah rute pengirimannya di tengah ancaman dari milisi Houthi di Yaman terhadap ekspor minyaknya melalui Laut Merah.
Meski demikian, risiko masih tetap ada. Menurut UK Maritime Trade Operation, sebuah kapal tanker dihantam proyektil tak dikenal di Selat Hormuz pada pekan ini. Insiden tersebut sedang diselidiki oleh otoritas setempat.
