Ubah Strategi, RI akan Lebih Ofensif Lawan Kampanye Hitam Sawit

Happy Fajrian
7 Februari 2021, 12:07
kampanye hitam sawit, minyak kelapa sawit, cpo,
ANTARA FOTO/FB Anggoro
Pekerja mengangkut tandan buah segar kelapa sawit hasil panen di PT Ramajaya Pramukti di Kabupaten Siak, Riau.

Sementara program insentif biodiesel melalui pendanaan dari BPDPKS yang implementasi pertamanya sejak Agustus 2015 dan terlaksana sampai November 2020, telah menyerap biodiesel dari sawit sekitar 23,49 juta kiloliter.

Volume tersebut setara dengan pengurangan Greenhouse Gas Emissions (GHG) sebesar 34,68 juta ton CO2 ekuivalen dan menyumbang sekitar Rp4,83 triliun pajak yang dibayarkan kepada negara.

"Pengembangan B30 menjadi kebijakan pemerintah dalam meningkatkan permintaan dalam negeri. Selain itu, program mandatori biodiesel juga mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil," kata Airlangga.

Kerja Sama Dengan Malaysia

Indonesia pun mengajak serta Malaysia yang merupakan negara produsen utama kelapa sawit dunia untuk melawan diskriminasi sawit. Ajakan tersebut disampaikan Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat bertemu dengan Perdana Menteri Malaysia Tan Sri Muhyiddin Yassin di Istana Merdeka, Jumat (5/2).

“Indonesia akan terus berjuang melawan diskriminasi terhadap sawit. Perjuangan tersebut akan lebih optimal jika dilakukan bersama. Indonesia mengharapkan komitmen yang sama dengan Malaysia mengenai isu sawit ini,” kata Jokowi.

PM Malaysia Muhyiddin Yassin pun menyampaikan hal senada. Menurut dia diskriminasi sawit tidak menggambarkan kelestarian industri sawit dunia dan kontradiktif dengan komitmen UE kepada Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade Organization/WTO) dalam hal perdagangan bebas.

"Malaysia akan terus bekerja sama dengan pihak Indonesia dalam isu diskriminasi minyak sawit, terutama memperkasakan Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC)," kata Muhyiddin Yassin.

Menurut Yassin kampanye tersebut tidak berdasar dan tidak menggambarkan industri minyak sawit yang sebenarnya, serta kelestarian alam sekitar yang tetap terjaga.

Menteri Perusahaan Perladangan dan Komoditi Malaysia, Mohd. Khairuddin Aman Razali pada Sabtu (6/2) pun menyatakan akan segera bertemu dengan Menko Perekonomian Airlangga Hartanto untuk menetapkan strategi terbaik alam melindungi industri sawit kedua negara.

“Indonesia dan Malaysia merupakan negara penghasil sawit pertama dan kedua terbesar di dunia juga senantiasa berusaha mencari kesepakatan dalam memangun dan memelihara industri sawit di kedua negara,” kata dia.

Halaman:
Reporter: Antara
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...