Asian Agri dkk Targetkan 5.000 Petani Sawit Bersertfikat RSPO

Andi M. Arief
14 Juli 2022, 14:56
Pekerja menurunkan Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit dari atas mobil di Desa Lemo - Lemo, Kabupaten Mamuju Tengah, Sulawesi Barat, Sabtu (2/7/2022). Harga TBS kelapa sawit tingkat pengepul sejak sebulan terakhir mengalami penurunan harga dari Rp2.280 p
ANTARA FOTO/Akbar Tado/rwa.
Pekerja menurunkan Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit dari atas mobil di Desa Lemo - Lemo, Kabupaten Mamuju Tengah, Sulawesi Barat, Sabtu (2/7/2022). Harga TBS kelapa sawit tingkat pengepul sejak sebulan terakhir mengalami penurunan harga dari Rp2.280 per kilogram menjadi Rp800 per kilogram disebabkan banyaknya produksi.

PT Asian Agri Group, Apical Group Ltd, dan PT Kao Indonesia meluncurkan program  Smallholder Inclusion fo Better Livelihood & Empowerment (Smile) yang membantu petani sawit swadaya untuk mendapatkan sertifikat Roundtable Sustainable Palm Oil (RSPO).  Program ini ditargetkan bisa membantu 5.000 petani sawit mendapatkan sertifikat RSPO hingga 2030.


Senior Manager of Certification & Traceability Asian Agri, Ivan Novrizaldie, menyatakan bahwa program RSPO memilimi keuntungan baik bagi petani maupun industri kelapa sawit. Petani yang memiliki sertifikat RSPO bisa mendapatkan pendapatan tambahan berupa premi RSPO yang dibayar oleh industri hilir minyak sawit mentah. Sementara bagi pabrikan, program ini membuat mereka bisa menambahkan logo berkelanjutan pada produknya. 

"Sudah diatur skemanya (pembayaran premi) oleh RSPO dan sudah diakui secara internasional terkait dengan benefit premi (dari RSPO)," kata Ivan dalam kegiatan "First RSPO Certificate Handover - Smile" di Jakarta, Kamis (14/7).

 Berdasarkan data RSPO, sebanyak 40 kelompok petani swadaya yang bersertifikat RSPO telah menerima premi senilai US$ 3,08 juta atau setara dengan Rp 45,3 miliar pada April 2021 - Maret 2022. Total petani swadaya yang memiliki sertifikasi RSPO pada April 2021 - Maret 2022 adalah 10.936 petani. Artinya, pendapatan tambahan yang didapatkan petani bersertifikat RSPO adalah sekitar Rp 4,14 juta per tahun.

Namun demikian, Ivan menilai keuntungan utama dalam memiliki sertifikasi RSPO adalah efisiensi biaya dan peningkatan produktivitas per hektar dari kebun petani. Pasalnya, petani yang memiliki sertifikasi RSPO akan mendapatkan bimbingan terkait tata cara pemupukan yang baik, pemilihan bibit unggul, penanaman yang baik, dan kegiatan lainnya.

"Secara normatif, bisa kami sampaikan mungkin (peningkatan produktivitas kebun petani swadaya bisa naik) sekitar 10%, tapi bisa lebih. Sebenarnya eliminasi biaya yang tidak efektif itu yang paling besar dampaknya menurut saya," kata Ivan.

Dia mengatakan, petani swadaya yang telah mendapatkan sertifikat RSPO dalam program Smile pada fase pertama sebanyak 239 petani. Hingga akhir tahun, Ivan menargetkan angka tersebut naik menjadi 781 petani yang memiliki luas lahan sebanyak 2.376 hektar.

Pada fase kedua atau 2022-2027, petani yang mendapatkan sertifikat RSPO ditargetkan bertambah sebanyak 2.759 petani dengan luas lahan 8.831 hektar. Ivan mengatakan telah menemukan 1.688 calon peserta Smile tahap kedua yang tergabung dalam enam koperasi unit desa (KUD) di tiga provinsi, yakni Sumatra Utara, Riau, dan Jambi.

 Dalam program Smile, Asian Agri akan menjalankan tugas sebagai penyerap tandan buah segar (TBS) sawit bersertifikat RSPO. Selain itu, Asian Agri juga akan mendampingi petani untuk mendapatkan sertifikat RSPO.

Setelah Asian Agri mengolah TBS menjadi minyak sawit mentah (CPO), Apical akan menyerap CPO tersebut dan mengolahnya menjadi fatty acid yang merupakan  bahan baku utama bagi industri oleokimia.

Kao Indonesia akan menyerap fatty acid tersebut untuk diolah lagi sebagai bahan baku produk perawatan pribadi, seperti sabun, shampo, dan lainnya. Dalam program Smile, Apical dan Kao memberikan pembiayaan dalam proses sertifikasi RSPO, sedangkan premi RSPO akan dibayarkan ke petani oleh Kao Indonesia.

Produksi minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) dan minyak inti sawit (crude palm kernel oil/CPKO) mengalami peningkatan sepanjang April 2022.

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) mencatat, total produksi minyak sawit dalam negeri pada April 2022 sebesar 4,25 juta ton. Jumlah itu naik 2,5% dari 4,15 juta ton pada bulan sebelumnya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Andi M. Arief

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...