Resesi Ekonomi 2023 Diramal Buat Konsumen Enggan Melirik Mobil Listrik

Yuliawati
Oleh Yuliawati
20 Desember 2022, 14:12
mobil listrik, subsidi mobil listrik
ANTARA FOTO/REUTERS/Aly Song
Mobil Tesla Model-3 buatan China terlihat dalam acara pengiriman di pabriknya di Shanghai, China, Selasa (7/1/2020).

Ramalan resesi ekonomi tahun depan diperkirakan akan menghambat adopsi kendaraan listrik secara global. Lembaga konsultan AutoForecast Solutions (AFS), memperkirakan penjualan kendaraan listrik kemungkinan tidak akan meningkat dalam kurva yang mulus dan menanjak.

"Perlambatan ekonomi juga mengancam permintaan kendaraan secara keseluruhan di Eropa dan Cina," kata Presiden AFS Joe McCabe, dikutip dari Reuters, Selasa (20/12).

Eropa dan Cina beberapa tahun belakangan menggenjot penggunaan kendaraan listrik. Cina merupakan negara yang pertumbuhan kendaraan listriknya paling melesat di dunia. Kendaraan listrik baterai di Cina menguasai sekitar 21% pasar.

Adapun kendaraan listrik di Eropa menyumbang sekitar 12% dari total penjualan kendaraan penumpang. Namun di Amerika Serikat, pangsa pasar EV hanya sekitar 6%.

AFS juga mencatat penghalang adopsi kendaraan listrik yakni kelangkaan infrastruktur pengisian cepat publik. Tahun depan diperkirakan juga akan ada peningkatan biaya baterai EV, karena kekurangan bahan utama. Di samping itu terdapat ketidakpastian subsidi pemerintah yang telah mendukung pembelian EV di pasar utama, termasuk Amerika Serikat, Cina dan Eropa.

Reuters mencatat industri otomotif menggelontorkan lebih dari US$ 1 triliun untuk mengubah adopsi penggunaan kendaraan mesin bahan bakar menjadi kendaraan listrik. Dari Detroit hingga Shanghai, para pembuat mobil dan pemerintah mendorong penggunaan transportasi yang lebih bersih dan lebih aman.

Negara-negara Eropa dan California telah menetapkan 2035 sebagai batas waktu untuk mengakhiri penjualan kendaraan baru yang berbahan bakar fosil.

Berbagai Hambatan Kendaraan Listrik

Motor Intelligence mencatat pertumbuhan kendaraan listrik pada sebelas bulan 2022 di Amerika sebanyak 724.000. Jumlah ini hampir dua kali lipat dari penjualan 2019 sebanyak 326.000 kendaraan listrik.

Forbes Wheels memperkirakan permintaan organik kendaraan tersebut akan kembali tumbuh, bila tak ada hambatan berarti. Namun, saat ini produsen kendaraan listrik menghadapi masalah rantai pasokan.

Masalah rantai pasokan yang berkepanjangan dan sumber material membuat biaya kendaraan baru tetap tinggi. Menurut laporan dari Bloomberg New Energy Finance (BNEF), biaya paket baterai lithium-Ion naik menjadi US$151/kWh pada tahun 2022, naik 7% dari tahun ke tahun.

Selain itu, kendaraan listrik terhalang biaya komponen chip semikonduktor. Prinsipal industri otomotif Peter Maithel di perusahaan komputasi cloud mengatakan kepada Forbes Wheels bahwa kekurangan chip bisa berdampak pada 3 juta kendaraan tahun depan.

Penjualan kendaraan listrik di Amerika juga terhambat oleh harganya yang tinggi dan perubahan kebijakan yang membatasi subsidi. Meski makin banyak model baru EV dari merek mapan—dan bahkan merek baru.

Pada setahun atau dua tahun ke depan, produsen bakal menyiapkan seri kendaraan listrik baru, seperti Ford F-150 Lightning, Tesla Model Y dan pendatang baru Rivian R1S.

Model-model EV terbaru yang hemat biaya energi di tengah rekor harga bahan bakar dapat menarik konsumen baru. Ketika harga gas melonjak Juli lalu, jajak pendapat American Automobile Association (AAA) mengungkapkan bahwa 25% orang Amerika kemungkinan akan memilih kendaraan listrik untuk pembelian mobil berikutnya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...