Kemenperin Kaji Insentif Tambahan untuk Mobil Hybrid

Nadya Zahira
9 Agustus 2023, 08:24
Pengunjung melihat mobil Toyota Kijang Innova Listrik yang dipamerkan pada pembukaan IIMS Hybrid 2022 di JiExpo Kemayoran, Jakarta, Kamis (31/3/2022). Pameran otomotif Indonesia International Motor Show (IIMS) Hybrid 2022 yang berlangsung pada 31 Maret-10
ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/rwa.
Pengunjung melihat mobil Toyota Kijang Innova Listrik yang dipamerkan pada pembukaan IIMS Hybrid 2022 di JiExpo Kemayoran, Jakarta, Kamis (31/3/2022). Pameran otomotif Indonesia International Motor Show (IIMS) Hybrid 2022 yang berlangsung pada 31 Maret-10 April itu digelar secara daring (online) dan kunjungan langsung dengan pembatasan kapasitas dan penerapan protokol kesehatan COVID-19.

Kementerian Perindustrian atau Kemenperin tengah mengkaji pemberian tambahan insentif  hybrid electric vehicle (HEV) di luar PPnBM 6%. Insentif akan semakin besar jika emisi karbon yang dikeluarkan HEV lebih rendah.

Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika Kemenperin, Taufiek Bawazier, mengatakan HEV dapat mengurangi emisi secara signifikan. Bahkan saat ini, ada model HEV dengan emisi mencapai 75 gram/kilometer atau km.

Oleh sebab itu, dia mengatakan, Kemenperin menjajaki pemberian insentif kepada mobil hybrid. Namun, basisnya bukan pajak, melainkan emisi karbon yang dikeluarkan. Ini akan menjadi tambahan insentif mobil hybrid selain PPnBM 6% sesuai PP 74 Tahun 2021 dan aturan ini akan dirilis secepatnya.  

Taufiek mengakui bahwa penjualan HEV saat ini lebih tinggi dibandingkan battery electric vehicle atau BEV. Mobil bebasis baterai tersebut lebh disukai karena masyarakat tidak perlu mengkhawatirkan pengecasan baterai saat membawa HEV menempuh jarak jauh. 

“Jika memakai BEV, konsumen harus memperhitungkan daya baterai dan infrastruktur pengisian di tengah perjalanan,” ujar Taufiek dalam diskusi bertajuk Otomotif Ujung Tombak Dekarbonisasi Indonesia di Gedung Kementerian Perindustrian, Jakarta, Selasa (8/8)

Pengamat otomotif LPEM Universitas Indonesia, Riyanto, mengatakan HEV lebih diminati masyarakat dibandingkan BEV.

"Saat ini memang menjual satu BEV lebih sulit ketimbang dua HEV. Oleh sebab itu, penjualan HEV perlu didorong, lantaran emisi dua mobil jenis ini sama seperti satu BEV," ujar Riyanto.

Untuk itu, Riyanto mendorong agar HEV bisa juga segera mendapatkan insentif sama seperti BEV. Adapun saat ini, pemerintah baru memberikan insentif berupa pembebasan Pajak Kendaraan Bermotor atau PKB dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor untuk BEV.

Halaman:
Reporter: Nadya Zahira
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...