Banjir Bandang di Pakistan Tewaskan Lebih dari 300 Orang
Banjir bandang yang dipicu hujan deras pada hari Jumat (15/8) menyebabkan lebih dari 300 orang tewas dan 200 orang lainnya hilang di Provinsi Khyber Pakhtunkhwa, Pakistan. Pihak berwenang melanjutkan pekerjaan penyelamatan dan bantuan mereka, setelah sempat tertunda karena hujan kembali turun, pada Senin (18/8).
Menurut Badan Penanggulangan Bencana Provinsi Khyber, sebagian besar kematian terjadi di provinsi tersebut. Warga diimbau tetap waspada karena masih ada kemungkinan banjir susulan datang hingga Kamis (21/8) mendatang.
Para sukarelawan membantu ratusan pekerja penyelamat berpacu dengan waktu untuk menemukan kemungkinan korban selamat dan mengambil jenazah ketika hujan mulai mengguyur provinsi tersebut.
"Pagi ini hujan memaksa penghentian operasi bantuan," kata Nisar Ahmad, 31, seorang sukarelawan di distrik Buner yang paling parah terkena dampak seperti dikutip DW News. Di distrik tersebut 12 desa musnah total dan 219 jenazah telah ditemukan.
Buner, yang berjarak tiga setengah jam berkendara dari ibu kota, Islamabad, dilanda hujan badai, sebuah fenomena langka di mana lebih dari 100 milimeter hujan turun dalam waktu satu jam di area kecil.
Menurut keterangan pejabat, di Buner terjadi hujan lebih dari 150 milimeter dalam waktu satu jam pada Jumat (15/8) pagi.
"Puluhan jenazah masih terkubur di bawah lumpur dan bebatuan, yang hanya dapat dievakuasi dengan alat berat. Namun, jalur darurat yang dibangun untuk mengakses area tersebut kembali hancur akibat hujan baru," kata Ahmad.
Sekitar 200 orang masih hilang di Provinsi Khyber Pakhtunkhwa, menurut keterangan pihak berwenang setempat.
Bantuan Disalurkan ke Daerah-daerah yang Terkena Dampak Terparah
Menteri Penerangan Pakistan Attaullah Tarar mengatakan kepada televisi Geo News setempat bahwa bantuan telah dikirim ke daerah-daerah yang terkena dampak banjir bandang itu. Makanan, obat-obatan, selimut, tenda, generator listrik, dan pompa termasuk dalam bantuan tersebut, kata badan penanggulangan bencana dalam sebuah pernyataan.
Musim monsun membawa sekitar tiga perempat curah hujan tahunan di Asia Selatan, yang sangat penting untuk pertanian dan ketahanan pangan tetapi juga dapat menyebabkan kerusakan luas.
Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana, intensitas musim monsun tahun ini di Pakistan sekitar 50% hingga 60% lebih tinggi dari tahun lalu.
Tanah longsor dan banjir bandang sering terjadi selama musim monsun. Hujan lebat yang melanda Pakistan sejak Juni tahun ini telah menelan lebih dari 650 korban jiwa, dengan lebih dari 920 orang terluka.
Pakistan termasuk negara yang paling rentan di dunia terhadap dampak perubahan iklim dan semakin menghadapi kejadian cuaca ekstrem.
Pada tahun 2022, banjir monsun menenggelamkan sepertiga wilayah negara itu dan mengakibatkan sekitar 1.700 kematian.
