Departemen Keuangan AS Peringatkan Bank yang Bantu Transaksi Iran
Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Scott Bessent mengatakan kepada The Associated Press bahwa Presiden Donald Trump berencana menjatuhkan sanksi terhadap sebuah bank lain pekan ini seiring dengan intensifnya upaya AS untuk mengisolasi Iran secara ekonomi.
“Ini akan menjadi bentuk kekerasan ekonomi jika memang harus dilakukan, kami menunjukkan kepada mereka bahwa kami tahu siapa kalian, kalian juga tahu siapa diri kalian, dan ini harus dihentikan,” kata Bessent, seperti dilaporkan CNBC, Minggu (30/8).
Bessent berbicara dengan AP menjelang pertemuan negara-negara Kelompok 20 (G20) di Asheville, North Carolina, AS. Pada kesempatan itu, Bessent akan bertemu secara bilateral dengan rekan-rekannya dari negara-negara maju dan berkembang di dunia untuk mendorong kerja sama melawan Iran.
Trump baru-baru ini mengisyaratkan AS akan beralih dari serangan militer ke tekanan ekonomi dalam perang dengan Iran yang telah memasuki bulan keenam. Trump menjanjikan sanksi ekonomi yang disebut sebagai “Economic D-Day” terhadap Iran yang telah bertahan selama puluhan tahun di bawah sanksi yang memberatkan.
AS dan Iran Kembali Saling Serang
Namun, ketegangan antara AS dan Iran kembali memanas pada hari Minggu (30/8). Pasukan AS menyerang peluncur roket Iran di Selat Hormuz dalam aksi militer pertama mereka dalam sebulan. Iran bersumpah akan membalas apa yang mereka sebut sebagai serangan mematikan tersebut.
Selain itu, pemerintahan Trump sebagian besar mengandalkan peringatan daripada sanksi baru terhadap mitra dagang Iran. Ada juga pertanyaan mengenai bagaimana Trump akan menangani Tiongkok, yang merupakan mitra dagang terbesar Iran dan pembeli utama minyaknya.
Bessent mengatakan kepada AP bahwa ia akan berbicara dengan rekan-rekannya dari Tiongkok dalam pertemuan G20. "Semua opsi masih terbuka terkait sanksi terhadap Beijing atas pembelian yang terus dilakukannya," kata Bessent.
Namun, ia menolak anggapan bahwa pemerintah AS enggan menghadapi Tiongkok. Ia menyebut hal itu sebagai “narasi yang sepenuhnya salah yang diangkat oleh media.” Ia menyatakan Tiongkok dan AS sepakat mengenai perlunya membuka kembali Selat Hormuz dan mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir.
Bank Terbesar Kedua di Mesir Jadi Target Sanksi AS
Tindakan resmi pertama Departemen Keuangan AS dalam kampanye tekanan ekonomi ini adalah usulan regulasi yang disiapkan pada hari Jumat (28/8). Jika regulasi ini disahkan, Departemen Keuangan AS akan memutus akses cabang-cabang Banque Misr —bank terbesar kedua di Mesir— di Uni Emirat Arab ke sistem keuangan AS.
Dengan tidak menjatuhkan sanksi terhadap bank Mesir tersebut, Partai Republik tampaknya mengisyaratkan keengganannya untuk menghukum mitra dagang utama yang melakukan bisnis dengan Iran, termasuk Tiongkok dan India.
