AS dan Iran Kembali Saling Serang, Risiko Perang Meluas Kian Besar

Hari Widowati
2 September 2026, 09:50
AS, Iran, Selat Hormuz
Katadata/Hari Widowati/Chatgpt
Ilustrasi. Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali saling serang seiring meningkatnya konflik di antara keduabelah pihak.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali saling melancarkan serangan pada hari Selasa (1/9). Pasukan AS menghantam target-target Iran di sekitar Selat Hormuz, sementara Teheran menyatakan telah meluncurkan operasi balasan yang menyasar kepentingan AS di seluruh kawasan tersebut.

Menurut laporan Associated Press (AP), ledakan terlihat di atas Kota Aqaba, Yordania selatan, saat Iran menyatakan sedang melakukan pembalasan atas serangan AS. Belum diketahui secara pasti penyebab ledakan tersebut atau apakah rudal maupun pesawat nirawak (drone) Iran telah menghantam sasaran di lokasi itu.

Aqaba terletak di tepi Laut Merah, di sebelah selatan pangkalan-pangkalan AS yang menjadi sasaran serangan akhir pekan lalu, serta berada di dekat perbatasan Yordania dengan Israel dan Mesir.

Serangan ini terjadi setelah Presiden AS Donald Trump dikabarkan mempertimbangkan rencana CENTCOM untuk melakukan serangan terbatas yang bertujuan mencegah Iran memulihkan kemampuan radar dan rudal yang dapat digunakan untuk menyasar kapal-kapal di selat tersebut.

CENTCOM menyatakan pasukan AS mulai menyerang target-target Korps Garda Revolusi Islam di Iran pada tengah hari waktu setempat. Langkah AS ini menyusul upaya serangan Iran terhadap kapal komersial di Selat Hormuz dan personel AS di kawasan tersebut. Pihak komando tidak segera mengungkapkan jumlah atau lokasi target, maupun aset militer AS apa saja yang dikerahkan dalam operasi itu.

Trump menyebut serangan AS ke Iran "besar dan dahsyat" dalam sebuah unggahan di Truth Social pada hari Selasa (1/9). Ia menyatakan serangan itu merupakan balasan atas upaya Iran menebar ranjau laut di Selat Hormuz serta serangan rudalnya terhadap pangkalan AS di Yordania.

Trump mengancam akan melancarkan respons yang jauh lebih besar jika Teheran membalas. Iran akan diserang lebih keras dan lebih hebat. Ia juga memperingatkan bahwa serangan yang lebih besar lagi sudah "siap dilancarkan."

Tak lama kemudian, kantor berita pemerintah Iran, Tasnim, melaporkan angkatan bersenjata negara itu telah meluncurkan "operasi tegas" sebagai tanggapan atas serangan AS tersebut. Ia menyatakan pangkalan dan kepentingan AS di kawasan itu akan menjadi sasaran rudal dan pesawat nirawak (drone) Iran.

Eskalasi ini mengancam akan semakin memperpanjang perang yang sebelumnya diprediksi Trump akan berakhir dalam empat minggu, sekaligus mempersulit realisasi janji kampanyenya untuk mengakhiri perang menjelang pemilihan paruh waktu pada November 2026. Menurut jajak pendapat Reuters/Ipsos yang dirilis hari Senin (31/8), tingkat dukungan publik terhadap Trump berada di angka 33%, sementara hanya 36% warga Amerika yang mendukung perang melawan Iran.

Potensi Perang Meluas ke Yordania, Uni Emirat Arab

Operasi ini menandai eskalasi baru setelah AS dan Iran terlibat saling serang pada akhir pekan, untuk pertama kalinya dalam kurun waktu sekitar satu bulan.

Pada hari Minggu (30/8), militer AS menyerang peluncur roket di Pulau Larak, Iran, setelah CENTCOM menyatakan bahwa pasukan Iran sedang bersiap meluncurkan roket yang membawa ranjau laut ke arah selat tersebut.

Teheran merespons dengan meluncurkan rudal ke fasilitas-fasilitas AS di Yordania, namun rudal-rudal tersebut berhasil dicegat. Uni Emirat Arab juga menyatakan telah mencegat sebuah pesawat nirawak (drone) Iran di wilayah perairannya.

Trump mengancam akan melakukan pembalasan lebih lanjut pada hari Senin (31/8). "Kami akan menghantam mereka dengan keras. Akan ada tanggapan," ujar Trump kepada Fox News, seperti dikutip CNBC.

Pada Selasa (1/9), Kedutaan Besar AS di Qatar mengeluarkan peringatan keamanan mengenai potensi "eskalasi yang tak terduga" dan mendesak warga Amerika di kawasan tersebut untuk meningkatkan kewaspadaan di tengah kemungkinan pembatalan penerbangan, penutupan wilayah udara, dan gangguan perjalanan lainnya.

Serangan-serangan ini merupakan titik ketegangan terbaru dalam konflik yang telah berlangsung selama berbulan-bulan antara Washington dan Teheran terkait Selat Hormuz, salah satu jalur vital bagi pasokan energi dunia. Menurut Badan Informasi Energi AS (EIA), sebelum konflik ini, sekitar seperlima dari pasokan minyak global melintasi jalur perairan tersebut.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...