Kejanggalan-kejanggalan Tuntutan 1 Tahun Penyiram Novel Baswedan

Image title
12 Juni 2020, 15:36
Suasana sidang tuntutan kasus penyiraman air keras terhadap penyidik KPK Novel Baswedan dengan terdakwa Ronny Bugis dan Rahmat Kadir Mahulette yang disiarkan secara "live streaming" di Pengadilan Negeri Jakarta Utara, Jakarta, Kamis (11/6/2020). Jaksa P
ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/aww.
Suasana sidang tuntutan kasus penyiraman air keras terhadap penyidik KPK Novel Baswedan dengan terdakwa Ronny Bugis dan Rahmat Kadir Mahulette yang disiarkan secara "live streaming" di Pengadilan Negeri Jakarta Utara, Jakarta, Kamis (11/6/2020). Jaksa Penuntut Umum (JPU) menuntut kedua terdakwa dengan hukuman satu tahun penjara.

“Padahal kejadian yang menimpa Novel dapat berpotensi untuk menimbulkan akibat buruk, yakni meninggal dunia,” kata Isnur melalui keterangan resmi, Jumat (12/6).

Isnur menilai semestinya Jaksa menggunakan Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana dengan ancaman hukuman maksimal hukuman mati atau seumur hidup.

Selanjutnya, Isnur menyebut saksi-saksi penting tak dihadirkan dalam persidangan. Menurutnya setidaknya tiga orang saksi penting tak dihadirkan. Padahal ketiganya sudah pernah diperiksa penyidik Polri, Komnas HAM, serta Tim Pencari Fakta yang dibentuk Polri.

Kejanggalan terakhir, kata Isnur, adalah Jaksa tampak membela para terdakwa dari tuntutan yang ringan. Keberpihakan Jaksa kepada terdakwa, menurutnya, juga sudah terlihat saat agenda pemeriksaan Novel. Saat itu, Jaksa memberikan pernyataan yang cenderung menyudutkan Novel.

(Baca: Politisi PDIP Desak Kejaksaan Usus Kasus Lama Novel Baswedan)

Riwayat Perjalanan Kasus Novel Baswedan

Kasus penyerangan terhadap Novel terjadi tiga tahun lalu, yakni pada 11 April 2017. Saat itu Novel sedang pulang dari salat subuh ketika dua orang pengendara motor menghampirinya dan menyiramkan cairan ke wajahnya. Akibatnya, mata kirinya harus cacat.

Novel sempat dilarikan ke Singapura untuk mendapatkan perawatan mata kirinya pada 12 April. Di sela perawatan tersebut, ia sempat memberikan keterangan tentang sosok Jenderal Polisi di balik kejadian yang menimpanya. Namun, ia tak menyebut secara gamblang nama Jenderal Polisi itu.

Belanjut, pada 31 Juli 2017, polisi meminta Novel melapor untuk mengonfirmasi keterangan. Hasil dari laporan ini disampaikan Kapolri yang waktu itu masih dijabat Jenderal Tito Karnavian kepada Presiden Joko Widodo. Termasuk menunjukkan sketsa pelaku.

Pada 24 November 2017, Kapolda Metro Jaya yang saat itu dijabat Jenderal Idham Aziz menunjukkan sketsa pelaku yang didapat dari keterangan dua orang saksi. Namun, polisi belum berhasil mengungkap identitas pelaku dalam sketsa tersebut meskipun mengklaim telah memeriksa CCTV di sekitar lokasi kejadian.

(Baca: Jokowi Minta Tak Ada Kegaduhan dalam Bongkar Kasus Novel Baswedan)

Lamanya pengungkapan penyerangan Novel, membuat Komnas HAM membentuk tim penyelidikan pada 9 Maret 2018. Anggota tim adalah Ketua Komnas HAM Ahmad Taufan Damanik dan beberapa ahli hukum. Sementara itu, Novel kembali aktif menjadi penyidik KPK pada 27 Juli 2018. Saat itu masyarakat sipil dan pegawai KPK menyambutnya di halaman gedung komisi anti rasuah.

Kerja tim penyelidikan bentukan Komnas HAM membuahkan rekomendasi pembentukan tim pencari fakta yang disampaikan pada 21 Desember 2018. Komnas HAM meminta Jokowi memastikan Kapolri membentuk, mendukung, dan mengawasi pelaksanaan tim pencari fakta.

Kapolri Tito Karnavian akhirnya membentuk tim pencari fakta pada 11 Januari 2019. Tim ini terdiri dari unsur polisi, KPK, akademisi, LSM, Komnas HAM, dan mantan pimpinan KPK. Sementara Tito menjadi penanggung jawab.

Akan tetapi, lebih kurang empat bulan bekerja tim pencari fakta bentukan polri ini belum berhasil mengungkap pelaku dan motif penyerangan Novel. Wadah Pegawai KPK pun mendesak Jokowi membuat tim pencari fakta independen.

Tim pencari fakta independent belum sempat dibuat Jokowi sampai saat ini. Namun, pada 26 Desember 2019 polisi mengungkap dan menangkap dua pelaku penyerangan Novel, yakni Rahmat Kadir Mahulette dan Rony Bugis.

(Baca: Tim Advokasi Minta Polisi Bongkar Dalang Kasus Penyerangan Novel Baswedan)

Halaman:
Reporter: Dimas Jarot Bayu

Cek juga data ini

Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...