BEM SI Tolak Temui Jokowi, Menhan Justru Klaim Bertemu 70 Mahasiswa

Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu mengatakan, anggota BEM UI tidak hadir dalam pertemuan itu.
Dimas Jarot Bayu
Oleh Dimas Jarot Bayu
27 September 2019, 11:53
Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu mengklaim bertemu dengan 70 perwakilan mahasiswa terkait demonstrasi
Ajeng Dinar Ulfiana | KATADATA
Ilustrasi, Menteri Petahanan Ryamizard Ryacudu (kanan) menerima naskah Laporan Komisi I DPR RI oleh Abdul Kharis selaku pimpinan dalam Rapat Paripurna ke-11 Masa Persidangan I Tahun 2019/2020 di Kompleks Parlemen, Jakarta (26/9). Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu mengklaim bertemu dengan 70 perwakilan mahasiswa terkait demonstrasi.

Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu mengklaim bertemu dengan 70 anggota Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dari berbagai kampus pada Kamis (26/9) malam. Padahal, Aliansi BEM Seluruh Indonesia (SI) menolak undangan pertemuan dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang rencananya digelar hari ini (27/9).

Ryamizard menjelaskan, pertemuannya dengan 70 anggota BEM tersebut untuk berdiskusi terkait demonstrasi menolak revisi aturan kontroversial. “Saya sudah kumpulkan beberapa puluh BEM, tadi malam,” kata Ryamizard di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (27/9).

Hanya, Ryamizard tidak merinci lokasi pertemuan itu ataupun mahasiswa dari universitas mana yang diajak bertemu.

Namun, ia menyebutkan bahwa BEM Universitas Indonesia (UI) tidak ikut dalam diskusi itu. “Karena dia (anggota BEM UI) tidak mau gabung,” kata Ryamizard.

(Baca: Mahasiswa Tampik Pertemuan dengan Jokowi di Istana jika Tertutup)

Ryamizard menegaskan, setiap warga negara berhak untuk berunjuk rasa jika tuntutannya baik. Hanya saja, ia mengimbau agar demonstrasi tidak berujung rusuh karena akan merugikan banyak orang.

Di sisi lain, Aliansi BEM SI justru menolak undangan pertemuan dengan Presiden Jokowi hari ini. BEM SI bersedia bertemu Jokowi, jika pertemuan berlangsung secara terbuka dan disaksikan langsung oleh publik melalui televisi nasional.

Selain itu, BEM SI bersedia bertemu Jokowi, jika tuntutan mereka yang tertuang dalam ‘Maklumat Tuntaskan Reformasi’ disikapi secara tegas dan tuntas oleh Presiden. “Pertemuan tersebut harus menjamin bahwa nantinya akan ada kebijakan yang konkret demi terwujudnya tatanan masyarakat yang lebih baik,” kata Koordinator Pusat Aliansi BEM SI Muhammad Nurdiyansyah dalam siaran pers, Jumat (27/9).

(Baca: Apresiasi Demonstrasi, Jokowi Bakal Temui Mahasiswa Jumat Besok)

BEM SI belajar dari pertemuan dengan Jokowi di Istana Negara pada 2015 lalu. Ketika itu, pertemuan antara BEM SI dengan Jokowi dilakukan secara tertutup.

Hasilnya, Nurdiyansyah menilai pertemuan itu hanya menimbulkan perpecahan di antara gerakan mahasiswa. “Kami belajar dari proses ini dan tidak ingin menjadi alat permainan penguasa yang sedang krisis legitimasi publik, sehingga melupakan substansi terkait beberapa tuntutan aksi yang diajukan,” kata dia.

Nurdiyansyah mengatakan, yang dibutuhkan para mahasiswa bukanlah pertemuan penuh negosiasi. Yang diperlukan adalah sikap tegas Jokowi terhadap tuntutan mereka.

“Secara sederhana, tuntutan kami tak pernah tertuju pada pertemuan, melainkan Bapak Presiden memenuhi tuntutan,” kata Nurdiyansyah.

Lagipula, pria yang juga menjabat Presiden Mahasiswa IPB ini mengaku belum mendapat undangan pertemuan dari Jokowi. Padahal, Jokowi mengatakan pertemuan akan dilaksanakan hari ini. “Tidak ada undangan resmi atau khusus yang kami terima,” kata dia.

(Baca: Jurnalis dan Pendiri WatchDoc Dandhy Laksono Ditangkap Polisi)

Reporter: Dimas Jarot Bayu

Video Pilihan

Artikel Terkait