Presiden AS Trump Berencana ‘Blokir’ Raksasa Semikonduktor Tiongkok

AS terus menekan perusahaan teknologi Tiongkok. Setelah Huawei, Presiden Trump menyasar raksasa semikonduktor, SMIC.
Desy Setyowati
Oleh Desy Setyowati
6 September 2020, 11:48
Presiden AS Trump Berencana ‘Blokir’ Raksasa Semikonduktor Tiongkok
ANTARA FOTO/REUTERS/Kevin Lamarque/File Foto
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo, penasehat keamanan nasional AS John Bolton dan Presiden China Xi Jinping menghadiri jamuan makan malam setelah ktt pemimpin negara G20 di Buenos Aires, Argentina, Sabtu (1/12/2018).

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terus memperluas kebijakannya yang berfokus menekan perusahaan teknologi asal Tiongkok. Kali ini, AS berencana membatasi ekspor kepada Semiconductor Manufacturing International Corporation (SMIC).

SMIC merupakan produsen semikonduktor terbesar di Negeri Panda. Departemen Pertahanan AS sedang berdiskusi mengenai masuk tidaknya SMIC ke dalam daftar entitas yang dibatasi impornya atas produk tertentu asal Negeri Paman Sam.

“Departemen Pertahanan (DoD) tengah bekerja dengan antarlembaga dalam menilai informasi yang tersedia, untuk menentukan apakah SMIC perlu masuk ke Daftar Entitas Departemen Perdagangan,” ujar juru bicara Departemen Pertahanan dikutip dari CNBC Internasional, Minggu (6/9).

 

Langkah tersebut merupakan bagian dari upaya berkelanjutan untuk menekan perusahaan teknologi Tiongkok. Apalagi, SMIC dipandang sebagai pemain kunci bagi Negeri Tirai Bambu untuk meningkatkan industri semikonduktor domestiknya.

Tiongkok memang semakin serius mengurangi ketergantungan teknologi AS. Pemerintah Negeri Panda pun berencana merilis cetak biru, China Standards 2035 pada tahun ini.

Cetak biru yang disebut ‘hype’ itu merupakan bagian dari rencana besar Tiongkok mengembangkan teknologi skala dunia. China Standards 2035 akan menjabarkan rencana pemerintah dalam menetapkan standar global terkait teknologi generasi mendatang.

Pelaksanaan China Standards 2035 memakan waktu 15 tahun. “Ini merupakan ambisi untuk menetapkan aturan skala dunia pada masa depan, terutama terkait teknologi saat memasuki era baru,” kata salah satu pendiri Horizon Advisory Emily de La Bruyere saat mengikuti acara podcast bertajuk ‘Beyond The Valley’ pada Juni lalu (22/6).

Ia menilai, China Standards 2035 akan membuat Tiongkok memiliki keunggulan tersendiri di bidang teknologi. “Yang berarti Beijing mampu mengumpulkan informasi yang lebih baik tentang dunia, dengan keamanan dan implikasi komersial. Akan tetapi juga dapat membentuk informasi itu,” ujar Bruyere.

Namun, AS terus menerus membatasi perusahaan Tiongkok mendapatkan komponen penting untuk pengembangan teknologi. Ada lebih dari 275 korporasi yang berbasis di Negeri Tirai Bambu, yang masuk daftar entitas Departemen Perdagangan AS.

Salah satu perusahaan yang masuk daftar tersebut yakni Huawei Technologies China. Departemen Perdagangan AS memperluas pembatasan akses bagi Huawei untuk mendapatkan semikonduktor.

AS juga menambahkan 38 afiliasi Huawei di 21 negara ke daftar hitam (blacklist) ekonomi. Alhasil, 152 afiliasi Huawei masuk daftar hitam terkait perdagangan di AS.

Akibat kebijakan itu, Huawei akan berhenti memproduksi cip (chipset) andalannya, Kirin pada bulan ini. “Tekanan AS terhadap pemasok Huawei membuat HiSilicon tak bisa terus memproduksi cip, komponen utama ponsel,” kata CEO Unit Bisnis Konsumen Huawei Richard Yu dikutip dari Reuters, bulan lalu (8/8).

Selain itu, Huawei memberikan sanksi kepada TikTok dan WeChat karena dianggap membahayakan keamanan AS. Trump memberikan waktu 45 hari kepada keduanya untuk tunduk pada peraturan Negeri Paman Sam, sejak dikeluarkannya perintah eksekutif pada 6 Agustus.

Trump boikot tiongkok
Trump boikot tiongkok (Katadata)

 

Video Pilihan

Artikel Terkait