Dianggap Ragukan Perubahan Iklim, Presiden Bank Dunia Diminta Mundur
Presiden Bank Dunia yang diusung oleh mantan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, yakni David Malpass diminta mundur atau dipecat. Malpass bahkan disebut sebagai penyangkal iklim.
Sebelumnya, Malpass tampil dalam diskusi panel di acara perubahan iklim yang diselenggarakan oleh The New York Times. Dia ditanya apakah dirinya percaya bahwa pembakaran bahan bakar fosil berbahaya bagi manusia dan mempercepat pemanasan global.
Dia mencoba untuk menghindari pertanyaan itu. “Saya bahkan tidak tahu. Saya bukan ilmuwan,” kata dikutip Reuters, Selasa (22/9).
Pernyataan itu menuai kritik. "Bagaimana ini mungkin terjadi pada 2022? Sikap apatis ini menghasilkan aksi iklim yang lemah ketika negara-negara sangat membutuhkan bantuan dan keuangan @Bank Dunia," kata mantan utusan iklim Prancis dan arsitek kunci kesepakatan iklim Paris 2015 Laurence Tubiana di Twitter.
"Rakyat dan pemerintah sekarang membutuhkan pemimpin Bank Dunia yang mendengarkan ilmu pengetahuan," ujar CEO Yayasan Iklim Eropa tersebut.
Mantan Wakil Presiden AS 1993 – 2001 Albert Arnold Gore juga menyinggung Malpass dalam acara yang sama yang digelar oleh New York Times, namun panel berbeda. Dia menyebut Malpass sebagai ‘penyangkal iklim’.
Gore mengatakan bahwa Malpass tidak dapat meningkatkan akses pembiayaan bagi negara-negara berkembang untuk mengambil proyek-proyek iklim. “Sebab, hampir 90% peningkatan emisi ke depan berasal dari negara-negara berkembang,” katanya.
“Kita harus mengambil lapisan risiko teratas dari akses permodalan di negara-negara berkembang ini,” kata Gore. “Itulah tugas Bank Dunia.”
Sebagaimana diketahui, Amerika merupakan pemegang saham terbesar dan donatur rutin Bank Dunia. Sedangkan Gore menilai, negara berkembang menyumbang emisi besar karena penggunaan bahan bakar fosil.
Beberapa jam kemudian, Malpass mempertahankan catatannya tentang iklim. Namun tetap menolak untuk mengatakan secara langsung, apakah dia menerima konsensus ilmiah bahwa pembakaran bahan bakar fosil menyebabkan pemanasan global.
“Pernyataan Mr Gore sangat aneh,” kata Malpass dikutip dari New York Times, Selasa (22/9). Sebab, dia mengatakan bahwa dirinya bukan ilmuwan sehingga menolak untuk menjawab pertanyaan tentang apakah dia menerima konsensus ilmiah terkait iklim.
“Apa yang perlu kita lakukan adalah bergerak maju dengan proyek-proyek yang berdampak,” ujar Malpass.
Ia pun menjabarkan kinerja Bank Dunia yang tertuang dalam Rencana Aksi Perubahan Iklim yang dimulai di Glasgow tahun lalu. Dia mengatakan, Bank Dunia mengarahkan US$ 31,7 miliar untuk pembiayaan iklim.
Setengahnya untuk proyek-proyek yang mendorong adaptasi atas cuaca ekstrem dan transformasi iklim lainnya, yang sangat penting bagi negara-negara berkembang. “Bank Dunia telah menjadi pemimpin dunia dalam memfokuskan perhatian pada ketahanan, adaptasi dan perubahan,” katanya.
Meski begitu, Presiden AS Joe Biden diminta memecat Malpass karena menolak berkomentar soal apakah pembakaran bahan bakar fosil berbahaya bagi manusia dan mempercepat pemanasan global.
Utusan khusus AS untuk perubahan iklim John Kerry menolak berkomentar tentang apakah pemerintahan Biden percaya pada kepemimpinan Malpass. “Itu keputusan presiden,” ujarnya.
Tapi Kerry mengatakan, dia dan orang lain dalam pemerintahan mendorong pemikiran ulang yang lebih luas dari pendekatan global terhadap perubahan iklim dan isu-isu lain yang memungkinkan entitas seperti Bank Dunia dan IMF untuk bertindak lebih agresif.
“Kami perlu melakukan reformasi besar-besaran, restrukturisasi besar-besaran,” kata Kerry. “Terserah kita untuk menyatukan orang dan mendapatkan reformasi itu, dan ada banyak diskusi tentang kita yang melakukan itu sekarang.”
Kepresidenan Bank Dunia telah dipegang oleh warga Amerika Serikat, sejak bank ini didirikan pasca-Perang Dunia II. Masa jabatan Malpass berlangsung hingga 2024.
